SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM PERSIS (STAIPI)

MEDIA DAKWAH DAN ILMU PENGETAHUAN

Subscribe
Add to Technorati Favourites
Add to del.icio.us

4.20.2010

Sejarah Tafsir di Indonesia

Diposting oleh aLumNUs BalZ

Al-Quran tidak akan mengikuti hipotesis-hipotesis manusia, tetapi hasil penelitian ilmiah manusia harus mengikuti alqur’an. Jika suatu penilaian ilmiah tertentu selaras dengan penjelasan al-Qur’an, hal ini akan merupakan kebanggaan dan kenikmatan yang besar bagi para peneliti …. Tetapi, jika hasil penelitian mereka tidak sesuai dengan al-Qur’an, maka mereka harus melanjutkan penelitiannya”. (Ahmad Khan, dikemukakan oleh Parvez dalam karyanya Ma’arif al-Qur’an)

Pengantar.
Studi terhadap al-Qur’an dan tafsir berikut metodologinya sebenarnya selalu mengalami perkembangan yang cukup signifikan, seiring dengan akselerasi perkembangan kondisi sosial budaya dan peradaban manusia, sejak turunnya al-Qur’an hingga sekarang. Fenomena tersebut merupakan konsekuensi logis dari adanya keinginan umat Islam untuk selalu mendialogkan antara al-Qur’an sebagai teks (nash) yang terbatas, dengan perkembangan problem sosial kemanusiaan yang dihadapi manusia sebagai konteks (waqa’i) yang tak terbatas. Hal itu juga merupakan salah satu implikasi dari pandangan teologis umat Islam bahwa al-Qur’an itu shalihin li kulli zaman wa makan (al-Qur’an itu selalu cocok untuk setiap waktu dan tempat). Karenanya, sebagaimana dikatakan Muhammad Syahrur, al-Qur’an harus selalu ditafsirkan sesuai dengan tuntutan era kontemporer yang dihadapi umat manusia. Kebutuhan manusia akan solusi terhadap berbagai problem yang dihadapi oleh manusia mengharuskan mereka untuk mengorek lebih dalam jawaban yang disediakan oleh al-Qur’an.

Tak terkecuali dalam konteks ranah bumi pertiwi yang merupakan mayoritas beragama Islam. Bersamaan dengan proses awal masuknya Islam di Nusantara, kitab Suci al-Qur’an diperkenalkan para juru dakwah itu kepada penduduk pribumi di Nusantara. Pengenalan awal terhadap al-Qur’an itu, bagi penyebar Islam tentu suatu hal yang penting, karena al-Qur’an adalah Kitab Suci agama Islam yang diimani sebagai pedoman hidup bagi orang yang telah memeluk Islam. Adalah tidak bisa ditolak, keharusan memahami isi al-Qur’an bila ingin menjadi muslim yang baik. Kenyataan ini dikuatkan dengan munculnya kitab-kitab tafsir yang merupakan hasil karya anak-anak negeri, baik pada masa klasik seperti tafsir Tarjuman Al-Qur’an yang ditulis oleh ‘Abdul Ra’uf al-Sinkili (1615-1693 M) lengkap 30 juz, maupun akhir abad 20 seperti tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, tafsir al-Furqon oleh A. Hassan sampai tafsir al-Mishbah yang ditulis oleh Quraish Shihab.

Terseraknya berbagai hasil penelitian yang mengungkapkan literatur di Nusantara seputar kajian al-Qur’an, menunjukkan bahwa sejak semula umat Islam di Indonesia mempunyai perhatian besar terhadap al-Qur’an; mulai hal pengajaran tata cara membaca al-Qur’an yang baik sesuai dengan ilmu tajwid, hingga kajian-kajian mendalam mengenai kandungan al-Qur’an. Al-Qur’an menempati kedudukan penting di dalam sejarah pergumulan awal Muslim Indonesia. Di pelbagai pondok pesantren, madrasah, dan sekolah, telah memposisikan al-Qur’an menjadi salah satu materi penting – disamping fiqh, bahasa, dan teologi (kalam)- dengan ilmu-ilmu yang terkait, seperti ulumul qur’an dan ulumut tafsir.

Di Era sekarang, kajian seputar al-Qur’an yang diusung oleh anak-anak negeri dengan pendekatan yang berbeda satu sama lain terus dilakukan, kenyataan ini semakin memperkaya khazanah keilmuan di bumi pertiwi ini, baik yang dikemas melalui penerbitan buku, buletin ataupun kolom-kolom yang khusus disediakan oleh surat kabar tertentu yang berbicara seputar kajian al-Qur’an dan tafsirnya. Salah satu diantaranya adalah surat kabar harian Republika yang menyertakan suplemen tambahan dengan judul Tabloid Republika Dialog Jum’at yang terbit tiap hari jum’at. Dalam tabloid tersebut terdapat kolom “Iqra” yang khusus mengupas al-Qur’an dengan pendekatan tafsirnya. Terlepas dari apakah itu ditujukan untuk menaikkan oplah dikarenakan pangsa pasar muslim yang cukup menjanjikan ataukah murni mencerdaskan masyarakat, yang jelas ini merupakan hasil karya anak bangsa yang berhak untuk diapresiasikan dan memperkaya literatur kajian Sejarah Tafsir di Indonesia. Makalah ini hadir mencoba untuk meneliti kolom “Iqra” yang dihadirkan dalam Tabloid Republika Dialog Jum’at tersebut dengan memakai pisau analisis disiplin ilmu tafsir melalui penelitian seputar unsur metode yang dipergunakan, unsur sumber serta pendekatan yang mendominasi setiap pembahasan dan juga relasi/ aplikasi metodologi penafsirannya. Pada kesempatan ini, penulis membatasi kajian penelitian ini cukup dengan 8 edisi saja, sesuai dengan bahan yang penulis dapatkan, yaitu edisi 3 November 2006/ 11 Syawal 1427 H, edisi 6 Oktober 2006 M, edisi 1 Desember 2006/ 10 Dzulqa’dah 1427 H, edisi 15 Desember 2006/ 24 Dzulqa’dah 1427 H, edisi 23 Februari 2006/ 5 Shafar 1428 H, edisi 9 Maret 2006/ 19 shafar 1428 H, edisi 16 Maret 2007/ 26 Shafar 1428 H, edisi 23 Maret 2007/ 4 Rabiul Awal 1428 H. Sekalipun tidak berurutan, mudah-mudahan cukup mewakili dari tulisan-tulisan sebelumnya.

Analisis Kajian.
Dalam Tabloid Republika Dialog Jum’at edisi 3 November 2006/ 11 Syawal 1427 H, edisi 6 Oktober 2006 M, edisi 1 Desember 2006/ 10 Dzulqa’dah 1427 H, edisi 15 Desember 2006/ 24 Dzulqa’dah 1427 H secara bersambung menurunkan tulisan kajian tentang Jejak-jejak Bangsa Terdahulu. Pada edisi 3 November 2006 mengisahkan tentang Bencana yang menimpa Fir’aun dan kaumnya dikarenakan ingkar kepada Allah dan mendustakan kenabian Musa As. Tanpa menentukan ayat yang menjadi fakus kajian, tulisan dalam edisi tersebut menceritakan secara naratif kisah kehancuran Fir’aun dengan mengutip Qs. Al-A’raf (7): 132, kemudian masih pada surat yang sama dalam ayat 130 untuk lebih menguatkan argumentasi, juga dikutip Qs. Az-zukhruf (43): 51 dan mengambil dari kitab kaum Nasrani, Perjanjian Lama, tepatnya dalam Keluaran, 7:21. Ditinjau dari metode yang dipergunakan, tulisan pada edisi ini lebih pada metode ijmali. Ini terlihat dari penuturan yang cukup singkat dan global, juga hanya menampilkan bagian terjemah, tanpa mementingkan aspek asbabun nuzul, kemudian diakhiri dengan perumusan pokok-pokok kandungan dari ayat-ayat yang dikaji. Pendekatan secara tekstual sangat kentara sekali dengan mempergunakan sistematika penyajian secara tematik (maudlu’i). Jika diteliti lebih mendalam, teori-teori standar yang sudah digariskan oleh para ulama tafsir tidak menjadi acuan pokok, baik tentang munasabah bainal ayat awis surah, aspek asbabun nuzul, juga kajian riwayah. Sumber primer tulisan tersebut adalah hasil dari saduran tulisan Harun Yahya pada www.harunyahya.com.
Pada edisi 6 Oktober 2006 yang mengisahkan perjalanan Ashabul Kahfi tatkala melarikan diri dari kejaran Raja Kafir yang zhalim, dengan menurunkan tulisan dengan judul ‘Apakah para penghuni gua ada di Tarsus?’. Hampir sama dengan analisis untuk tulisan edisi 3 November di atas, hanya disini rujukan sumber data ada pada pendapat ahli-ahli tafsir seperti ath-Thabari, Fakhrudin ar-Razi, juga dalam tafsir Baidlawi dan an-Nasafi ketika meyakinkan argumentasi bahwa gua tempat Ashabul Kahfi pernah hidup terletak di sebuah gunung yang dikenal sebagai Encilus atau Bencilus, di Barat Laut Tarsus.

Pada edisi 1 Desember 2006 dengan menurunkan judul ‘Kota yang dijungkirbalikkan (2), Ada apa dengan struktur Danau Luth’, tanpa menampilkan satu pun ayat yang menjadi fokus kajian, tulisan tersebut adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya yang belum terlacak oleh saya (Peneliti, penj). Tulisan pada edisi ini merupakan hasil olahan dari penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan tentang kondisi danau Luth yang kisahnya dapat kita temukan dalam al-Qur’an dengan mengacu dari sumber www.harunyahya.com.

Sedangkan pada edisi 15 Desember 2006 yang menutup rangkaian kisah ‘Jejak-jejak Bangsa Terdahulu’ dengan judul ‘Pelajaran bagi Kita’ menampilkan Qs. Ar-Ruum (30): 9 sebagai refleksi kajian al-Qur’an dalam menyikapi fenomena masyarakat sekarang yang tidak jauh berbeda dengan umat terdahulu. Dengan model gaya bahasa yang menempatkan bahasa sebagai medium komunikasi dengan karakter kebersahajaan menjadikan makna moral ataupun sosial yang terkandung dalam ayat lebih mudah untuk dipahami seperti terlihat dalam tulisan “semua kaum yang telah kita pelajari sebelumnya telah dibinasakan melalui berbagai bencana alam seperti gempa bumi, badai, banjir, dan sebagainya. Sama halnya, kaum-kaum yang sesat dan berani melakukan tindakan pelanggaran seperti kaum-kaum terdahulu juga akan dihukum dengan cara yang sama”. Sama dengan yang di atas, aplikasi metodologi penafsiran tidak terlalu menonjol.

Kemudian pada edisi 23 Februari 2007, 9 Maret 2007, 16 Maret 2007 dan 23 Maret 2007, Dialog Jum’at berturut-turut menampilkan tulisan tentang keajaiban al-Qur’an yang mengupas ayat al-Qur’an dengan metode ijmali tetapi melalui pendekatan tafsir ilmi (ilmiyah), yaitu suatu pemahaman atas teks al-Qur’an dengan menggunakan data hasil observasi ilmiah sebagai variabel penjelas. Usaha menjelaskan ayat al-Qur’an dengan metode ilmiah ini bisa dipahami, mengingat dalam al-Qur’an sendiri terdapat banyak isyarat ilmiah. Ini dapat kita lihat tatkala menjelaskan tafsir Qs. An-Najm (53): 49 pada edisi 23 Februari 2007 dengan judul ‘Bintang Sirius (Syi’ra), “Kenyataan bahwa kata Arab Syi’raa, yang merupakan padan kata bintang Sirius, muncul hanya di surat an-Najm ayat ke-49 secara khusus sangatlah menarik. Sebab, dengan mempertimbangkan ketidakberaturan dalam pergerakan bintang Sirius, yakni bintang paling terang di langit malam hari, sebagai titik awal, para ilmuwan menemukan bahwa ini adalah sebuah bintang ganda….Namun, kenyataan ilmiah ini, yang ketelitiannya hanya dapat diketahui di akhir abad ke-20, secara menakjubkan telah diisyaratkan dalam al-Qur’an 1.400 tahun yang lalu, yaitu melalui ayat ke-9 dalam surat yang sama ”…maka jadilah dia dekat dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi)”.

Pada edisi 9 Maret 2007 dengan judul ‘Air Susu Ibu’, tulisan pada edisi kali ini mengutip Qs. Lukman (31): 14 “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu”. Pada alinea ke-6 ditulis, ‘salah satu hal yang menyebabkan ASI sangat dibutuhkan bagi pekembangan bayi yang baru lahir adalah kandungan minyak omega-3 asam linoleat alfa. Selain sebagai zat penting bagi otak dan retina manusia, minyak tersebut juga sangat penting bagi bayi yang baru lahir’. Sedangkan pada edisi 16 Maret 2007 dengan judul ‘Kekuatan Petir’ lebih banyak mengeksplorasi temuan ilmiah seputar kekuatan dan kedahsyatan petir dari pada pengelaborasian kajian tafsir dalam arti aplikasi metode penafsiran. Kemudian pada edisi 23 Maret 2007 dengan judul ‘Lebah Madu’ menampilkan kajian Qs. An-Nahl (16) : 68-69, “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, “Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan tempat-tempat yang dibikin manusia”, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia…”. Tulisan edisi kali ini juga tidak berbeda jauh dengan tulisan pada edisi sebelumnya, pemaparan temuan ilmiah seputar rahasia kehidupan lebah serta manfaat madu mendominasi tulisan ini dari pada kajian metodologi tafsir.

Penutup.
Secara global, dari hasil penelitian terhadap sebanyak 8 edisi yang dimuat dalam kolom ‘Iqra’ pada Tabloid Republika Dialog Jum’at masing-masing edisi 3 November 2006/ 11 Syawal 1427 H, edisi 6 Oktober 2006 M, edisi 1 Desember 2006/ 10 Dzulqa’dah 1427 H, edisi 15 Desember 2006/ 24 Dzulqa’dah 1427 H, edisi 23 Februari 2006/ 5 Shafar 1428 H, edisi 9 Maret 2006/ 19 shafar 1428 H, edisi 16 Maret 2007/ 26 Shafar 1428 H, edisi 23 Maret 2007/ 4 Rabiul Awal 1428 H dapat disimpulkan bahwa metode yang dipergunakan adalah metode ijmali (global) yang hampir secara keseluruhan menjadikan sumber dirayah sebagai rujukannya. Pada metode tafsir dengan menempatkan penemuan sains ilmiah sebagai variable utama untuk menjelaskan pengertian dari suatu ayat. Model tafsir macam ini setidaknya memuat dua hal. Pertama, menjadikan teks al-Qur’an sebagai alat justifikasi bahwa al-Qur’an nyata telah memberi isyarat mengenai ilmu sains, teknologi dan seterusnya. Kedua, penemuan sains ilmiah dijadikan variabel penguat bahwa al-Qur’an memanglah ilmiah. Dalam konteks ini muncul problem krusial: bagaimana bila teori ilmiah yang dijadikan penjelas, tadinya diyakini final dan berkesesuaian dengan al-Qur’an, ternyata mengalami anomali dan tidak valid lagi. Sebab, penemuan ilmiah tidak saja terus berkembang, tapi juga berubah. Posisi teks al-Qur’an pun tentu akan menjadi kehilangan relevansinya. Namun, betapapun harus dicatat bahwa al-Qur’an bukanlah buku sains ataupun teknik. Oleh karena itu, menafsirkan al-Qur’an bukanlah untuk memenuhi kebutuhan actual dan teknik, melainkan berupaya berdialog dengannya untuk melihat bagaimana pandangan-pandangannya.
Kajian tafsir yang dimuat pada Tabloid Republika Dialog Jum’at pada kolom ‘Iqra’ akan menjadi lebih berbobot apabila dilengkapi dengan kajian dan aplikasi metodologi penafsiran, sehingga para pembaca akan mendapatkan nilai plus dari tulisan tersebut. Selain hasil-hasil penemuan ilmiah yang berhasil menguak kebenaran al-Qur’an yang diturunkan jauh sebelum manusia mengenal metode observasi lapangan, juga materi-materi Ulum al-Qur’an dan Ulum al-Tafsir yang menjadi pondasi bangunan sebuah tafsir dari ayat-ayat Ilahi tersebut.
Wallahu A’lam Bishowab.

Referensi.
1. Al-Qur’an Buku yang menyesatkan dan buku yang mencerahkan, editor : May Rachmawatie dan Yudhie R Haryono, PT. Gugus Press Bekasi 2002 M.
2. Khazanah Tafsir Indonesia, Islah Gusmian, Teraju Jakarta 2003 M.
3. Studi Al-Qur’an Kontemporer, editor : Abdul Mustaqim dan Sahiron Syamsudin, PT. Tiara Wacana Yogyakarta 2002 M.

0 komentar:

Posting Komentar