SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM PERSIS (STAIPI)

MEDIA DAKWAH DAN ILMU PENGETAHUAN

Subscribe
Add to Technorati Favourites
Add to del.icio.us
9.13.2011

MUSNAD AHMAD BIN HAMBAL

Diposkan oleh aLumNUs BalZ

Perjalanan Beliau Dalam Menuntut ilmu

Sungguh mengagumkan semangat Al-Imam Ahmad bin Hanbal di dalam menuntut ilmu. Beliau hafal Al-Qur’an pada masa kanak-kanak. Beliau juga belajar membaca dan menulis. Semasa kecil beliau aktif mendatangi kuttab (semacam TPA di zaman sekarang).

Imam Ahmad bin Hambal berguru kepada banyak ulama, jumlahnya lebih dari dua ratus delapan puluh yang tersebar di berbagai negeri, seperti di Makkah, Kufah, Bashrah, Baghdad, Yaman dan negeri lainnya. Di antara guru imam ahmad adalah:

1. Al-Imam Abu Yusuf, murid senior Al-Imam Abu Hanifah.

2. Al-Imam Husyaim bin Abi Basyir. Beliau mendengarkan dan sekaligus menghafal banyak

hadits darinya selama 4 tahun.

3. ‘Umair bin Abdillah bin Khalid.

4. Abdurrahman bin Mahdi.

5. Abu Bakr bin ‘Ayyasy.

6. Ismail bin Ja’far
7. Abbad bin Abbad Al-Ataky
8. Umari bin Abdillah bin Khalid
9. Husyaim bin Basyir bin Qasim bin Dinar As-Sulami
10. Waki’ bin Jarrah.
11. Ismail bin Ulayyah.
12. Sufyan bin ‘Uyainah
13. Abdurrazaq
14. Ibrahim bin Ma’qil.

Murid-murid Beliau :
Umumnya ahli hadits pernah belajar kepada imam Ahmad bin Hambal, dan belajar kepadanya juga ulama yang pernah menjadi gurunya, yang paling menonjol adalah :

1. Imam Bukhari.
2. Muslim
3. Abu Daud
4. Nasai
5. Tirmidzi
6. Ibnu Majah
7. Imam Asy-Syafi’i. Imam Ahmad juga pernah berguru kepadanya.
8. Putranya, Shalih bin Imam Ahmad bin Hambal
9. Putranya, Abdullah bin Imam Ahmad bin Hambal
10. Keponakannya, Hambal bin Ishaq
11. dan lain-lainnya.

Karya-karya beliau di antaranya :


1. Kitab Al Musnad, karya yang paling menakjubkan karena kitab ini memuat lebih dari

dua puluh tujuh ribu hadits.
2. Kitab At-Tafsir, namun Adz-Dzahabi mengatakan, "Kitab ini hilang".
3. Kitab Az-Zuhud
4. Kitab Fadhail Ahlil Bait
5. Kitab Jawabatul Qur’an
6. Kitab Al Imaan
7. Kitab Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah
8. Kitab Al Asyribah
9. Kitab Al Faraidh

Menurut Imam Nadim, kitab berikut ini juga merupakan tulisan Imam Ahmad bin Hanbal

1. Kitab al-'Ilal

2. Kitab al-Manasik

3. Kitab az-Zuhd

4. Kitab al-Iman

5. Kitab al-Masa'il

6. Kitab al-Asyribah ا

7. Kitab al-Fadha'il

8. Kitab Tha'ah ar-Rasul

9. Kitab al-Fara'idh

10. Kitab ar-Radd ala al-Jahmiyyah

Pengertian Musnad dan Perkembangannya

Musnad adalah salah satu jenis kitab hadis yang disusun berdasarkan salah satu metode penulisan hadis yang dipakai para ulama pada awal abad ke-2 H/ke-8 M. Metode itu sendiri dikenal dengan nama tasnid, yakni menghimpun hadis-hadis dari setiap orang sahabat berdasarkan kriteria tertentu, seperti berdasarkan nama-nama sahabat secara alfabetis (urutan abjad hijaiyah), fadhilah (keutamaan), nasab (keturunan), waktu keislaman, kabilah, negeri, dan lain sebagainya. Namun secara teknis, musnad yang disusun secara alfabetis lebih mudah dipergunakan. Dan inilah kriteria musnad yang dikenal secara umum, seperti Musnad Imam Ahmad, karya Ahmad bin Hanbal[1] (W. 241 H/855 M). Meskipun demikian, ada sebagian ahli hadis yang mendefinisikan musnad itu sebagai kitab yang disusun berdasarkan bab-bab fikih, bukan berdasarkan musnad sahabat, seperti Musnad Baqi bin Makhlad al-Andalusi (W. 276 H/889 M).[2]

Musnad Ahmad mulai ditulis di Baghdad pada tahun 200 H/815 M. ketika Imam Ahmad berusia 36 tahun, setelah kembali dari Abdurrazaq di Yaman [3]. Penulisan itu terus berlangsung di perjalanan, ketika beliau rihlah ke Bashrah (tahun 200 H/815 M) hingga kembali ke Baghdad (tahun 209 H/824 M).[4] Proses penulisan itu dilakukan dengan menggunakan lembaran-lembaran kertas dan dipisah menjadi beberapa juz. Setelah kembali ke Baghdad, beliau menyuruh putranya Abdullah untuk menghimpun dan menyusun juz-juz yang terpisah itu.

Pada tahun 225 H/839 M. Musnad Ahmad mulai di-isma (diajarkan) kan kepada dua putranya (Shalih dan Abdullah) dan keponakannya Hanbal bin Ishaq. Pengajaran ini berlangsung selama 12 tahun (berakhir tahun 237 H/851 M).[5]. Pengajaran ini berlangsung seiring dengan proses penyusunan kitab tersebut. Namun sebelum selesai dihimpun seluruhnya, beliau meninggal dunia (tahun 241 H/ 855 M) pada usia 77 tahun.

Musnad Ahmad yang sesuai dengan versi al-Mu’jam adalah edisi perdana cetakan al-Mathba’ah al-Maimuniyyah, Mesir, tahun 1313 H/1919 M. Kemudian dicopy oleh Maktabah al-Islami dan Dar Shadir, Beirut, dan diterbitkan sebanyak enam jilid bersama kitab Muntakhab Kanz al-Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al-Af’al pada hamisy-nya (pinggir halaman kitab). Pada jilid pertama disertakan fahras rawi-rawi kitab musnad susunan Syekh Nashir al-Din al-Albani. Apabila rujukan yang dipergunakan seorang pentakhrij sesuai dengan versi-versi di atas, maka pentakhrijan hadis dengan kitab al-Mu’jam relatif lebih mudah dilakukan

Kitab-kitab jenis musnad sangat banyak, namun yang terkenal di antaranya sebagai berikut:

1. Musnad Abu Daud Sulaiman bin Daud al-Thayalisi (W. 204 H/819 M), atau yang lebih populer dengan sebutan Musnad al-Thayalisi.

2. Musnad Abu Bakar Abdullah bin Zubair al-Humaidi (W. 219 H/834 M), atau yang lebih populer dengan sebutan Musnad al-Humaidi.

3. Musnad Ali bin al-Ja’di (W. 230 H/844 M), atau yang lebih populer dengan sebutan Musnad al-Ja’di..

4. Musnad Ishaq bin Rahawaih (W. 238 H/852 M)

5. Musnad Ahmad bin Hanbal (W. 241 H/855 M)

  1. Musnad Abd bin Humaid. (W. 249 H/863 M).
  2. Musnad Abu Ya’la Ahmad bin Ali al-Mutsanna al-Mushili (W. 307 H/919 M).

Dari sejumlah kitab jenis musnad yang telah disebutkan di atas, yang terpenting dan paling populer adalah Musnad Ahmad bin Hanbal. perlu kami sampaikan gambaran umum tentang karakteristik kitab tersebut sebagai berikut:

Kitab ini disusun berdasarkan musnad sahabat, yaitu menghimpun setiap hadis yang diriwayatkan oleh seorang sahabat dari Rasulullah saw. Tetapi ia tidak menyusun nama-nama sahabat itu secara alfabetis (berdasarkan urutan huruf hijaiyyah), karena beliau memperhatikan beberapa hal, di antaranya afdhaliyyah (keutamaan), makaniyyah (tempat tinggal), dan qabilah (kabilah para sahabat). Adapun sistematika penyusunannya sebagai berikut:

1. Musnad al-khulafa al-rasyidin, yaitu Abu Bakar al-Shidiq, Umar bin al-Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abu Thalib.

2. Musnad al-‘Asyarah al-Mubasysyarin bi al-Jannah (10 sahabat yang dijamin masuk surga), yaitu [1] Thalhah bin Ubaidullah, [2] al-Zubair bin al-‘Awwam, [3] Sa’ad bin Abu Waqash, [4] Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail, [5] Abdurrahman bin ‘Auf, [6] Abu Ubaidah ‘Amir bin Abdullah,

3. Musnad Tawabi’ al-Asyarah, yaitu [7] Abdurrahman bin Abu Bakar, [8] Zaid bin Kharijah, [9] al-Harits bin Khajamah, [10] Sa’ad Maula Abu Bakar.

4. Musnad Ali Abu Thalib (keluarga Abu Thalib), yaitu [1] al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib, [2] al-Husen bin Ali bin Abu Thalib, [3] Aqil bin Abu Thalib, [4] Ja’far bin Abu Thalib, [5] Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib.

5. Musnad Ali al-Abbas (keluarga al-Abbas), yaitu [1] al-Abbas bin Abd al-Muthallib, [2] al-Fadhl bin Abbas, [3] Tamam bin al-Abbas bin Abd al-Muthallib, [4] Ubaidullah bin al-Abbas, [5] Abdullah bin al-Abbas bin Abd al-Muthallib.

6. Masanid al-Muktsirin (para sahabat yang banyak meriwayatkan hadis), yaitu Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar bin Khatab, Abdullah bin Amr bin al-‘Ash, Abu Hurairah, Abu Sa’id al-Khudriy, Anas bin Malik, dan Jabir bin Abdullah.

7. Musnad al-Makiyyin (para sahabat berasal dari Mekkah).

8. Musnad al-Madaniyyin (para sahabat berasal dari Madinah).

9. Musnad al-Syamiyin (para sahabat berasal dari Syam)

10. Musnad al-Kufiyin (para sahabat berasal dari Kufah)

11. Musnad al-Bashriyin (para sahabat berasal dari Bashrah)

12. Musnad al-Anshar (para sahabat kalangan Anshar)

13. Musnad al-Nisa (Para sahabat kalangan wanita)

14. Di tengah-tengah para sahabat kalangan wanita dicantumkan beberapa sahabat dari beberapa suku dan beberapa hadis Abu Darda.[6]

A. Jumlah Hadits Musnad Ahmad

Musnad Ahmad merupakan kitab hadis besar yang menghimpun kurang lebih 40.000 hadis. Dan tanpa pengulangan sekitar 30.000 hadis, yang disaring dari kurang lebih 750.000 hadis yang dikuasai Imam Ahmad.[7] Jumlah ini menunjukkan bahwa kitab Musnad Ahmad merupakan kitab yang paling banyak jumlah hadisnya, yang pernah dipublikasikan.

Yang perlu mendapat perhatian bahwa Musnad Ahmad yang beredar secara meluas di kalangan kaum muslimin tidak semuanya riwayat Imam Ahmad, karena ada beberapa ziyadah (hadis tambahan) bukan riwayat Ahmad, melainkan disandarkan kepadanya oleh putranya bernama Abdullah bin Ahmad. Demikian pula hadis-hadis Musnad Ahmad yang diriwayatkan oleh Abu Bakar al-Qathi’i dan Shalih, dari Abdullah bin Ahmad.

Kitab Musnad Imam Ahmad telah mendapatkan perhatian besar dari para ulama. Hal ini terbukti dengan dicetaknya kitab tersebut dalam beberapa edisi, antara lain

[a] Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal

Kitab ini pertama kali dicetak oleh al-Mathba’ah al-Maimuniyyah, Mesir, tahun 1313 H/1895 M. Kemudian dicopy oleh Maktabah al-Islami dan Dar Shadir, Beirut, dan diterbitkan bersama kitab Muntakhab Kanz al-Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al-Af’al pada hamisy (pinggir halaman kitab) sebanyak enam jilid. Pada jilid pertama disertakan fahras rawi-rawi kitab musnad susunan Syekh Nashir al-Din al-Albani.

[b] Al-Musnad li al-Imam Ahmad Muhammad bin Hanbal

Kitab ini dicetak oleh Maktabah Dar al-Kutub al-Islami tahun 1949 M dengan syarh (komentar) dan tahqiq (editing) oleh Ahmad Muhammad Syakir sebanyak sepuluh jilid, masing-masing 2 juz.

Dalam tahqiq-nya Ahmad Muhammad Syakir membicarakan hadis-hadis dari segi nilai sahih dan daifnya serta dilampirkan pula daftar indeks hadis-hadisnya. Beliau tidak sempat menyelesaikan usahanya untuk membuat indek-indek Musnad dengan sempurna, karena beliau lebih dahulu meninggal dunia. Jumlah hadis yang sempat di-tahqiq dalam kitab tersebut sebanyak 10.637.

Kendati demikian usaha sebagian ini merupakan suatu pengabdian yang mulia.

[c] Al-Musnad li al-Imam Ahmad bin Hanbal

Kitab ini dicetak pertama kali tahun 1991 oleh Dar el-Fikr, Beirut, dengan tahqiq (editing) oleh Abdullah Muhammad al-Darwisyi, sebanyak 10 jilid dengan jumlah hadis 27.718.

Pada jilid terakhir disertakan kitab al-Qaul al-Musaddad fi al-Dzabbi ‘an Musnad al-Imam Ahmad, karya Ibn Hajar al-Asqalani.

[d] Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal

Kitab ini dicetak pertama kali tahun 1995 oleh Muassasah al-Risalah, Beirut, dengan tahqiq (editing) oleh al-Syekh al-Muhaddits Dr. Syu’aib al-Arnauth dan kawan-kawan (empat orang dibantu tujuh orang asisten), dengan jumlah hadis 27.647 yang dimuat pada 45 jilid. Edisi ini dilengkapi dengan faharis ammah (indeks umum) sebanyak 5 jilid [ke-46 hingga ke-50] dengan kategori [a] ayat Alquran, [b] athraf al-hadits (petikan sebagian matan hadis) secara alfabetis (urutan huruf hijaiyyah); meliputi qauliyyah (sabda), fi’liyyah (perbuatan), dan al-atsar (perkataan sahabat dan tabi’in), [c] syair-syair, [d] nama-nama sahabat, [e] para guru Imam Ahmad, [f] para guru Abdullah bin Ahmad, [h] para rawi dalam Musnad Ahmad, [i] nama-nama yang tercantum pada matan hadis, [j] nama-nama tempat dan negeri, [k] nama-nama kabilah dan jamaah, [l] berbagai peristiwa dan peperangan.

[e] Musnad al-Imam al-Hafizh Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal

Kitab ini dicetak pertama kali tahun 1998 oleh Bait al-Afkar al-Dauliyyah li al-Nasyr wa al-Tauzi’ (International Ideas Home For Publishing & Distributions), Riyadh, Saudi Arabia, sebanyak 1 jilid, 2.065 halaman, dengan jumlah hadis 28.199.

B. Katagori Hadits

Hadis-hadis yang dimuat dalam Musnad Ahmad terbagi kepada 6 macam :

1. Riwayat Abdullah bin Ahmad yang diterima dari ayahnya (Imam Ahmad) secara sima’. Jumlahnya sangat banyak lebih dari ¾ kitab. Dan inilah yang disebut dengan Musnad al-Imam Ahmad.

2. Riwayat Abdullah bin Ahmad yang diterima dari Ahmad dan lainnya secara sima’. Jumlahnya amat sedikit.

3. Riwayat Abdullah bin Ahmad yang diterima dari yang lain secara sima’. Dan ini yang dinamakan zawaid Abdullah. Jumlah guru dan hadisnya sudah diterangkan di atas. Rumusnya (ز)

4. Riwayat Abdullah bin Ahmad yang pernah dibacakan di hadapan Imam Ahmad tetapi riwayat itu tidak diterima dari Ahmad. Jumlahnya amat sedikit. Rumusnya (قر)

5. Riwayat Abdullah bin Ahmad yang tidak pernah dibacakan di hadapan Imam Ahmad juga tidak diterima darinya. Tetapi ia menemukan pada catatan ayahnya. Jumlahnya amat sedikit. Rumusnya (خط)

6. Riwayat Abu Bakar al-Qathi’I dari selain Abdullah bin Ahmad dan ayahnya. Dan ini yang disebut zawaid al-Qathi’i. Rumusnya (قط)

C. Parameter

1. Setiap hadis yang dikatakan pada awal sanadnya

حدثنا عبد الله حدثني أبي

Maka hadis itu bagian dari Musnad Ahmad

Menurut penelitian bentuk seperti ini sebanyak 2.595 hadis, dengan 6 macam redaksi sebagai

Berikut :

[1] menggunakan redaksi

حدثنا عبد الله حدثني أبي

sebanyak 2.531 kali

[2] menggunakan redaksi

حدثنا عبد الله قال حدثني أبي

sebanyak 33 kali

[3] menggunakan redaksi

حدثنا عبد الله بن أحمد حدثني أبي

sebanyak 22 kali.

[4] menggunakan redaksi

حدثنا عبد الله بن أحمد بن حنبل حدثني أبي

Jumlahnya hanya 1 kali

[5] menggunakan redaksi

حدثنا عبد الله بن أحمد بن محمد بن حنبل حدثني أبي

Jumlahnya hanya 5 kali

[6] menggunakan redaksi

حدثنا عبد الله قال ثنا أبي

Jumlahnya hanya 3 kali

2. Setiap hadis yang dikatakan pada awal sanadnya

حدثنا عبد الله قال حدثنا فلان (بغير لفظ أبي)

Maka hadis itu bagian dari Zawaid Abdullah bin Ahmad

Menurut penelitian kami bentuk seperti ini sebanyak 899 hadis yang diterimanya dari 173

guru. :

[1] menggunakan redaksi

حدثنا عبد الله حدثنا

Jumlahnya hanya 72 kali

[2] menggunakan redaksi

حدثنا عبد الله ثنا

Jumlahnya 156 kali

[3] menggunakan redaksi

حدثنا عبد الله قال ثنا

Jumlahnya hanya 14 kali

3. Setiap hadis yang dikatakan pada awal sanadnya

حدثنا فلان (غير عبد الله و أبيه)

Maka hadis itu bagian dari Zawaid al-Qathi’I

Jumlah yang kami temukan sebanyak 11 hadis

Contoh Parameter

أخبرنا الشيخ أبو القاسم هبة الله بن محمد عبد الواحد بن أحمد بن الحصين الشيباني قراءة عليه وأنا أسمع فأقر به قال أخبرني أبو علي الحسن بن علي بن محمد التميمي الواعظ ويعرف بابن المذهب قراءة من أصل سماعه قال أخبرنا أبو بكر أحمد بن جعفر بن حمدان بن مالك القطيعي قراءة عليه قال ثنا أبو عبد الرحمن عبد الله بن أحمد بن محمد بن حنبل رضي الله عنهم قال حدثني أبي أحمد بن محمد بن حنبل بن هلال بن أسد من كتابه قال حدثنا عبد الله بن نمير قال أخبرنا إسماعيل يعني بن أبي خالد عن قيس قال قام أبو بكر رضي الله عنه فحمد الله وأثنى عليه ثم قال يا أيها الناس إنكم تقرؤون هذه الآية ) يا أيها الذين آمنوا عليكم أنفسكم لا يضركم من ضل إذا اهتديتم ( وأنا سمعنا رسول الله e يقول إن الناس إذا رأوا المنكر فلم يغيروه أوشك أن يعمهم الله بعقابهمسند أحمد 1: 2 –

Contoh Zawaid al-Qathi’I

13447 حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ السُّلَمِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخَلْفَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِي اللَّهم تَعَالَى عَنْهممْ فَلَمْ يَكُونُوا يَسْتَفْتِحُونَ الْقِرَاءَةَ بِ ( بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ) قَالَ شُعْبَةُ فَقُلْتُ لِقَتَادَةَ أَسَمِعْتَهُ مِنْ أَنَسٍ قَالَ نَعَمْ نَحْنُ سَأَلْنَاهُ عَنْهُ – الفتح الرباني ج 3 : 187 –

13462 حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنِي عَمِّي يَعْقُوبُ عَنْ شَرِيكٍ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اعْتَدِلُوا فِي سُجُودِكُمْ وَلَا يَفْتَرِشْ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ الْكَلْبِ أَتِمُّوا الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ فَوَاللَّهِ إِنِّي لَأَرَاكُمْ مِنْ بَعْدِي أَوْ مِنْ بَعْدِ ظَهْرِي إِذَا رَكَعْتُمْ وَإِذَا سَجَدْتُمْ الفتح الرباني ج 3 : 278 –

13460 حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ وَحُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ مُطِرْنَا بَرَدًا وَأَبُو طَلْحَةَ صَائِمٌ فَجَعَلَ يَأْكُلُ مِنْهُ قِيلَ لَهُ أَتَأْكُلُ وَأَنْتَ صَائِمٌ فَقَالَ إِنَّمَا هَذَا بَرَكَةٌالفتح الرباني ج 6 : 253 ج 20: 16 –

Aplikasi Takhrij dengan Kitab Jenis Musnad

Untuk mentakhrij hadis di atas dengan kitab jenis musnad, kita dapat mempergunakan kitab Musnad karya Imam Ahmad (W. 241 H/856 M).

8Teknik Pentakhrijan dengan Musnad Ahmad

Takhrij dengan Musnad Ahmad ini harus didahului dengan pengenalan sahabat yang meriwayatkan hadis. Bila kita tidak tahu siapa sahabat yang meriwayatkan hadis yang hendak ditakhrij itu, kita tidak mungkin mempergunakan metode ini.

Bila kita telah mengetahui sahabat yang meriwayatkannya, kemudian kita mencari hadis-hadisnya pada Musnad ini. Akan sangat membantu sekali sebelumnya melihat fahras (daftar isi) yang terdapat pada halaman pertama tiap jilid/juz atau pada fahras yang terdapat di akhir setiap jilid/juz.

Cara ini memang terkadang banyak memakan waktu terutama mencari hadis-hadis dari sahabat-sahabat yang dikenal banyak riwayatnya, seperti Abu Hurairah, Ibn Abbas, Aisyah, dan lain-lain. Untuk itu pengguna kitab ini dituntut lebih banyak bersabar. Untuk lebih jelasnya, ikutilah praktik takhrij hadis di atas sebagai berikut:

Hadis di atas disampaikan oleh Anas bin Malik. Karena itu kita dapat melacaknya pada musnad (kumpulan hadis) Anas bin Malik. Pada Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal dengan tahqiq (editing) oleh al-Syekh al-Muhaddits Dr. Syu’aib al-Arnauth dan kawan-kawan, terbitan Muassasah al-Risalah, Beirut, tahun 1995, hadis tersebut diberi nomor 12.079 di sebelah kanannya[8], sebagai berikut:

12079 حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ مَيْسَرَةَ وحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُنْكَدِرِ سَمِعْتُهُمَا يَقُولَانِ سَمِعْنَا أَنَسًا يَقُولُ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ أَرْبَعًا وَبِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ

Hadis ini dimuat kembali pada tempat yang sama (musnad Anas), dengan nomor 12.098 disebelah kanannya[9], sebagai berikut:

12098 حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ مَيْسَرَةَ وحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُنْكَدِرِ سَمِعْتُهُمَا يَقُولَانِ سَمِعْنَا أَنَسًا يَقُولُ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ أَرْبَعًا وَبِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ

Hadis Anas di atas dimuat pula pada tempat yang sama, nomor 12.083 disebelah kanannya[10], dengan sanad dan matan yang berbeda sebagai berikut:

12083 حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَيُّوْبَ عَنْ أَبِيْ قِلاَبَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالُ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ بِالْمَدِينَةِ أَرْبَعًا وَ الْعَصْرَ بِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ

hadis ini dikemukakan pula pada tempat yang sama, nomor 12.934, dengan sedikit perbedaan sanad dan matan sebagai berikut[11]:

12934 حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيْلُ حَدَّثَنَا أَيُّوْبُ عَنْ أَبِيْ قِلاَبَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الظُّهْرَ بِالْمَدِينَةِ أَرْبَعًا وَ صَلَّى الْعَصْرَ بِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ

hadis ini dikemukakan pula pada tempat yang sama, nomor 13.831, dengan perbedaan sanad dan matan sebagai berikut[12]:

13329 حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا خَالِدٌ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ بِالْمَدِينَةِ أَرْبَعًا وَصَلَّى الْعَصْرَ بِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ وَبَاتَ بِهَا حَتَّى أَصْبَحَ فَلَمَّا صَلَّى الصُّبْحَ رَكِبَ رَاحِلَتَهُ فَلَمَّا انْبَعَثَتْ بِهِ سَبَّحَ وَكَبَّرَ حَتَّى اسْتَوَتْ بِهِ الْبَيْدَاءَ ثُمَّ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فَلَمَّا قَدِمْنَا مَكَّةَ أَمَرَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَحِلُّوا فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ التَّرْوِيَةِ أَهَلُّوا بِالْحَجِّ وَنَحَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَ بَدَنَاتٍ بِيَدِهِ قِيَامًا وَضَحَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَقْرَنَيْنِ أَمْلَحَيْنِ

Sedangkan pada al-Musnad li al-Imam Ahmad bin Hanbal dengan tahqiq oleh Abdullah Muhammad al-Darwisyi, terbitan Dar el-Fikr, Beirut, tahun 1991, hadis Anas pertama tersebut diberi nomor 12.080 disebelah kanannya[13], sebagai berikut :

12080 حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ حَدَّثَنِي أَبِيْ ثَنَا سُفْيَانُ قَالَ سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ مَيْسَرَةَ وثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُنْكَدِرِ سَمِعْتُهُمَا يَقُولَانِ سَمِعْنَا أَنَسًا يَقُولُ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ أَرْبَعًا وَبِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ

Hadis ini dimuat kembali pada tempat yang sama (musnad Anas), dengan nomor 12.099, sebagai berikut[14]:

12099 حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ حَدَّثَنِي أَبِيْ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ مَيْسَرَةَ و مُحَمَّدُ بْنُ الْمُنْكَدِرِ يَقُولَانِ سَمِعْنَا أَنَسًا يَقُولُ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ أَرْبَعًا وَبِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ

Hadis Anas di atas dimuat pula pada tempat yang sama, nomor 12.084, dengan sanad dan matan yang berbeda sebagai berikut[15]:

12084 حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ حَدَّثَنِي أَبِيْ ثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَيُّوْبَ عَنْ أَبِيْ قِلاَبَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالُ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ بِالْمَدِينَةِ أَرْبَعًا وَ الْعَصْرَ بِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ

Hadis ini dikemukakan pula pada tempat yang sama, nomor 12.933, dengan sedikit perbedaan sanad dan matan sebagai berikut[16]:

12933 حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ حَدَّثَنِي أَبِيْ ثَنَا إِسْمَاعِيْلُ ثَنَا أَيُّوْبُ عَنْ أَبِيْ قِلاَبَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الظُّهْرَ بِالْمَدِينَةِ أَرْبَعًا وَ صَلَّى الْعَصْرَ بِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ

hadis ini dikemukakan pula pada tempat yang sama, nomor 13.832, dengan perbedaan sanad dan matan sebagai berikut[17]:

13832 حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ حَدَّثَنِي أَبِيْ ثَنَا عَفَّانُ ثَنَا وُهَيْبٌ ثَنَا خَالِدٌ ثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ بِالْمَدِينَةِ أَرْبَعًا وَصَلَّى الْعَصْرَ بِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ وَبَاتَ بِهَا حَتَّى أَصْبَحَ فَلَمَّا صَلَّى الصُّبْحَ رَكِبَ رَاحِلَتَهُ فَلَمَّا انْبَعَثَتْ بِهِ سَبَّحَ وَكَبَّرَ حَتَّى اسْتَوَتْ بِهِ الْبَيْدَاءَ ثُمَّ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فَلَمَّا قَدِمْنَا مَكَّةَ أَمَرَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَحِلُّوا فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ التَّرْوِيَةِ أَهَلُّوا بِالْحَجِّ وَنَحَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَ بَدَنَاتٍ بِيَدِهِ قِيَامًا وَضَحَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَقْرَنَيْنِ أَمْلَحَيْنِ

Dari aplikasi contoh di atas terlihat bahwa hadis riwayat Anas tersebut diriwayatkan melalui beberapa jalur dan redaksi matan yang berbeda.

8 Keistimewaan Kitab Jenis Musnad dan Kendala Teknis

Kitab-kitab hadis jenis musnad memiliki keistimewaan di samping terdapat kendala-kendala teknis yang dapat menghambat penggunaannya. Adapun keistimewaannya adalah sebagai berikut:

1. Kitab jenis Musnad ini mencakup hadis-hadis dalam jumlah yang sangat banyak.

2. Memiliki nilai kebenaran yang lebih banyak dari yang lainnya.

3. Kitab ini mencakup hadis-hadis dan atsar-atsar yang tidak didapati pada jenis kitab lainnya.

Adapun kendala-kendala teknis yang akan dihadapi ketika mempergunakan kitab jenis ini adalah

1. Ketika kita akan mentakhrij suatu hadis, kita harus mengetahui terlebih dahulu siapa sahabat yang meriwayatkannya. Bila tidak diketahui kita akan kesulitan dalam mempergunakan kitab jenis ini.

2. Untuk mencari satu hadis yang diinginkan, seorang peneliti kitab jenis musnad harus membaca musnad sahabat yang bersangkutan secara menyeluruh.

3. Apabila sahabat tersebut termasuk yang banyak meriwayatkan hadis seperti Abu Hurairah, maka semakin besar kesulitan yang akan dihadapi ketika mencari hadis yang akan kita takhrij.



[1]Nama lengkapnya Ahmad bin Muhamad bin Hanbal bin Hilal bin Asad al-Syaibani. Lahir di Marwa (Mary, Turkmenistan) pada 146 H/763 M. Setelah ayahnya wafat, ia dibawa oleh Ibunya ke Baghdad. Imam Ahmad mulai mencari ilmu pada 179 H/795 M, ketika berusia 15 tahun. Salah satu di antara karya ilmiahnya adalah al-Musnad. (Lihat, al-Khatib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut, t.t., IV:412-416; Dr. M. Dhiya al-Rahman, Dirasat fi al-Jarh wa al-Ta’dil, Maktabah al-Ghuraba al-Atsariyyah, Madinah, 1419 H., hal. 375-375; Dr. al-Husaeni, al-Imam al-Bukhari Muhadditsan wa Faqihan, al-Dar al-Qaumiyyah, Kairo, t.t., hal. 45)

[2]Lihat, Dr. Mahmud Thahan, op.cit., hal. 40; Dr. Abd al-Shamad, op.cit., hal. 30.

[3]Lihat,Khashaishul Musnad, hal. 25

[4]lihat, Manaqib al-Imam Ahmad, hal. 27; Siyaru A’lamin Nubala, XI:306.

[5]lihat, Siyaru A’lamin Nubala XI:316

[6]Lihat, Musnad al-Imam al-Hafizh Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, Bait al-Afkar al-Dauliyyah, Riyadh, 1998, hal. 2069 - 2085.

[7]Lihat, Dr. Muhamad Muhamad Abu Zahu, al-Hadits wa al-Muhadditsun, Dar al-Kitab al-‘Arab, Beirut, 1984, hal. 370.

[8]Lihat, Musnad al-Imam Ahmad bi tahqiq Dr. Syu’aib al-Arnauth dan kawan-kawan, 1995, XIX:134.

[9]Lihat, Musnad al-Imam Ahmad, op.cit., XIX:149.

[10]Lihat, Musnad al-Imam Ahmad, op.cit., XIX:137.

[11]Lihat, Musnad al-Imam Ahmad, op.cit., XX:266.

[12]Lihat, Musnad al-Imam Ahmad, op.cit., XXI:330-331.

[13]Lihat, al-Musnad, 1991, IV:221.

[14]Lihat, al-Musnad, 1991, IV:224.

[15]Lihat, al-Musnad, 1991, IV:222.

[16]Lihat, al-Musnad, 1991, IV:371.

[17]Lihat, al-Musnad, 1991, IV:534.

Read More......