SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM PERSIS (STAIPI)

MEDIA DAKWAH DAN ILMU PENGETAHUAN

Subscribe
Add to Technorati Favourites
Add to del.icio.us

3.08.2009

Musapir Boleh Tidak Jumat

Diposting oleh aLumNUs BalZ

Mohon penjelasan tentang pendapat-pendapat dibawah ini: 1. Waktu wuquf Rasulullah th. 10 H jatuh hari jum’at, begitulah cara jum’at di Arafah!
2. Yaumu jum’atin pada hadits Muslim tidak menunjukkan hari jum’at melainkan hari berkumpul, jadi ada kemungkinan wuquf tahun 10 H hari Sabtu.

3. Hadits-hadits tentang musafir tidak wajib jum’at dha’if.
Anonimus

Jawaban :

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa jum’at itu hukumnya wajib berdasarkan dalil berikut ini:

يايها الذين ءامنوا اذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعواالى ذكر الله وذروا البيع ذالكم خيرلكم ان كنتم تعلمون.

Hai orang-orang yang beriman, apabila disuruh untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al-Jumu’ah : 9)

Ayat ini masih bersifat umum, yaitu semua mukmin wajib melaksanakan jum’at dimanapun ia berada dan dalam keadaan apapun. Namun kita dapatkan hadits yang shahih sebagai pengecualian dari keumuman yang wajib jum’at sebagai berikut:

عن طارق بن شهاب عن النبي صلعم قال: الجمعة حق واجب على كل مسلم فى جماعة الا اربعة عبد مملوك او امراْة او صبي او مريض. قال ابوا داود: طارق بن شهاب قد راْى النبي صلعم ولم يسمع منه شيئا.

Dari Thariq bin Syihab dari Nabi Saw ia bersabda: “Jum’at itu haq yang wajib atas setiap muslim dalam jama’ah, kecuali empat: hamba sahaya, perempuan, anak kecil atau yang sakit”. (HR. Abu Dawud).

Dalam hadits ini jelas dan terang musafir tidak termasuk yang dikecualikan dari kewajiban melaksanakan jum’at. Adapun hadits yang mengecualikan musafir dari kewajiban jum’at haditsnya dla’if, tidak bisa dijadikan hujjah. Dengan demikian musafir tetap wajib jum’at.

Ibnu Umar ketika sedang berada di Makkah (sedang safar pada hari jum’at, karena beliau adalah orang Madinah), ia melaksanakan jum’at, tidak melaksanakan shalat zhuhur seperti keterangan berikut ini.

عن عطاء قال: كان ابن عمر اذا كان بمكة فصلى الجمعة تقدم فصلى ركعتين ثم تقدم فصلى اربعا. واذا كان بالمدينة صلى الجمعة ثم رجع الى بيته فصلى ركعتين ولم يصلى فى المسجد فقيل له فقال: كان رسول الله صلعم يفعل ذالك (ابو داود).

Dari Atha ia berkata: Adalah Ibnu Umar jika berada di Makkah shalat jum’at, ia maju kemudian ia shalat dua raka’at, kemudian ia maju lalu ia shalat empat raka’at. Dan apabila ia berada di Madinah ia shalat jum’at, kemudian ia pulang ke rumah, lalu shalat dua raka’at, dan ia tidak shalat di masjid. Ditanyakan kepadanya (hal itu). Ia berkata, “Adalah Rasulullah Saw melakukan yang demikian”. (HR. Abu Dawud).

Lalu bagaimanakah dengan keputusan Dewan Hisbah yang menyatakan “Musafir boleh tidak jum’at?”

Kiranya perlu kita perhatikan keterangan-keterangan yang menjelaskan tentang musafir tidak melaksanakan jum’at. Seperti berikut ini:

عن جابر ... فاْجاز رسول الله صلعم حتى اتى عرفة فوجد القبة قد ضربت له بنمرة فنزل بها حتى اذا زاغت الشمس امر بالقصواء فرحلت له. فاْتى بطن الوادي فخطب الناس ... ثم اذن ثم اقام فصلى الظهر ثم اقام فصلى العصر ولم يصل بينهما شيئا ... (مسلم)

Dari Jabir: “…Selanjutnya Rasulullah Saw berangkat hingga sampai di Arafah, maka beliau menemukan tenda yang telah dibangun untuknya di Namirah, sehingga tatkala tergelincir matahari, beliau menyuruh dibawakan Qashwa (unta beliau), kemudian unta itu diserahkan kepadanya. Selanjutnya beliau sampai di lembah, beliau memberi khutbah kepada manusia kemudian dikumandangkan adzan selanjutnya iqamat, terus beliau shalat dzuhur, kemudian iqamat, dan terus shalat ashar, dan beliau tidak shalat apapun di antara kedua shalat itu”. (HR. Muslim).

Pelaksanaan haji Rasulullah Saw tidak lepas dari safar, sedangkan pelaksanaan wuqufnya ketika itu bertepatan dengan hari jum’at. Akan tetapi beliau melaksanakan shalat dzuhur dan ashar dijama’.

Ada yang mengatakan bahwa waktu wuquf Nabi Saw di Arafah itu hari Sabtu itu sebabnya Nabi Saw tidak mengerjakan jum’at.

Jika demikian, pada hari jum’atnya sedang berada di Mina, sedangkan beliau dan para sahabatnya ketika di Mina melaksanakan shalat dzuhur, ashar, maghrib, isya dan shubuh. Jelasnya beliau tidak melaksanakan jum’at.

Keterangan lainnya:

عن نافع ان بن عمر ذكر له ان سعيد بن زيد بن عمر بن نفيل وكان بدربا مرض فى يوم جمعة فركب اليه بعد ان تعالى النهار واقتربت الجمعة وترك الجمعة.

Nabi Nafi’ bahwasanya Ibnu Umar diterangkan kepadanya bahwa Sa’id ibn Zaid ibn ‘Amr ibn Nufail, ia (peserta perang Badar) sakit pada hari jum’at. Maka Ibnu Umar pergi menjenguknya padahal hari sudah siang, datanglah waktu jum’at, ia pun meninggalkan jum’at. (HR. Al. Bukhari).

Ada yang menyatakan bahwa tidak jum’atnya Ibnu Umar ketika itu karena tidak ada orang lain untuk bersama-sama melaksanakan jum’at. Sedangkan Sa’id ketika itu sakit keras (jelas tidak bisa jum’at dan memang tidak wajib jum’at), kemudian istri Said ia pun tidak wajib jum’at. Dengan demikian hanya tinggal Ibnu Umar sendirian untuk jum’at tidak memenuhi syarat fi jama’atin. Dengan demikian beliau tidak jum’at.

Sebenarnya ketika Ibnu Umar tidak sendirian tetapi bersama Sa’ad ibn Abi Waqqash yang membantu mengurus jenazah. Dengan demikian beliau tidak jum’at itu bukan karena sendirian atau tidak memenuhi fi jama’atin, tetapi karena safar.

Keterangan lainnya:

وكان انس رض فى قصره احيانا يجمع واحيانا لايجمع وهو بالزاوية على فرسخين (البخارى)

Dan adalah Anas ibn Malik r.a. ketika safarnya, kadang-kadang melaksanakan jum’at, dan kadang-kadang tidak melaksanakan jum’at. Dan ia berada di az-Zawiyah sejarak dua farsakh (6 mil atau kurang lebih 9 km). (HR. Al. Bukhari).

Dengan menjamakkan (memadukan) keterangan-keterangan tersebut, maka kesimpulannya adalah, jum’at bagi musafir menjadi wajib mukhayyar. Yaitu musafir wajib jum’at, jika tidak jum’at harus shalat dzuhur. Kiranya inilah yang dimaksud dengan “Musafir Boleh Tidak Jum’at”.

0 komentar:

Posting Komentar