SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM PERSIS (STAIPI)

MEDIA DAKWAH DAN ILMU PENGETAHUAN

Subscribe
Add to Technorati Favourites
Add to del.icio.us

1.30.2009

Sejarah PERSIS

Diposting oleh aLumNUs BalZ

Persatuan Islam(Persatuan Islam) secara formal didirikan pada tanggal 12 September 1923 di Bnadung,, oleh sekelompok umat Islam yang tertarik pada kajian dan aktivitas keagamaan. Sebelumnya juga sudah berdiri beberapa oraganisasi gerakan dan klub untuk tujuan religius, sosial, pendidikan, politik dan ekonomi di Indonesia. Seperti Budi Utomo pada 1908, Sarikat Islam pada tahun 1912 dan Muhammadiyyah pada tahun 1912.



Berdirinya Persis diawali dengan terbentuknya suatu kelompok tadarusan yang bermula dari sebuah kenduri keluarga di kota Bandung tepatnya di gang Pakgade. Kelompok ini dipimpin oleh H. Muhammad Zamzam dan H. Muhammad Yunus. Bersama jama’ahnya dengan penuh kecintaan mereka mengkaji dan mengaji ajaran Islam.

Nama Persatuan itu diberikan dengan maksud untuk mengerahkan ruhul jihad dan ijtihad. Berusaha sekuat tenaga mencapai harapan dan cita-cita yang sesuai dengan cita-cita organisasi yaitu persatuan pemikiran Islam, persatuan rasa Islam dan persatuan suara Islam. Ide ini diilhami oleh firman Allah SWT dalam al Qur-an surat ali imran ayat 102: “ dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai berai” serta hadits nabi yang diriwayatkan oleh Turmudzi : “ kekuatan Allah itu beserta jama’ah”. Firman Allah dan hadits tersebut menjadi motto Persis dan ditulis dalam lambing yang berbentuk lingkar bintang bersudut duabelas.

Sejak berdirinya Persis yang menggolongkan dirinya sebagai harakah tajdid (Gerakan Pembaharu) yang bertujuan memurnikan ibadah umat dari bid’ah, takhayul, dan khurafat sangat giat melaksanakan penyebaran faham Al-Qur-an dan As-sunah. Gerakan pemurnian agama Islam dilakukan dengan isu kontroversial yang bersifat gebrakan (shock therapy) dalam pendekatan yang lebih polemik dan mengundang kontroversi bahkan terkesan revolusioner, sehingga membuat kedudukan Persis terasa unik. Pemurnian aqidah dan pemantapan ibadah, dilakukan karena Persis memandang telah terjadi kerusakan akidah (pencemaran) dan penyimpangan praktek ibadah pada umat Islam yang banyak dipengaruhi oleh kolonial Belanda pada masa itu.

Gaung pembaharu Islam demikian nyaring terdengar. Terutama di akhir abad ke empat belas hijriah, isu pembaharuan semakin gencar di elu-elukan. Bukan saja oleh para pemikir, para sarjana, mahasiswa dan praktisi hukum Islam, ternyata pihak baratpun menyorotinya. Semua bermaksud memformulasikan konsep pembaharuan dalam islam. Permasalahan yang terjadi diantaranya semacam perbedaan persepsi akan pengertian pembaharuan. Ekses dari pemahaman itu berpengaruh kepada penentuan ruang lingkup dan batasan pembaharuan Islam.

Persis mewarnai corak pemikiran keagamaan dalam Islam. Sejarahpun mencatat, bahwa cita-cita ideal pendirian Persis telah melahirkan tokoh-tokoh Persis bersekala nasional bahkan internasional seperti, A. Hassan, KHM Isa Anshary, KHE Abdurrahman, KHA Latief Mukhtar dan M. Natsir yang dikenal sebagai seorang demokrat dan juga “Bapak” intelektual Islam Indonesia.

Perintah pembaharuan(baca:tajdid) itu bukanlah sematamata urusan manusia, tapi juga perintah Ilahi. Seperti yang disinyalir dalam sebuah hadits Nabi Muhammad saw, bahwa Alah Swt akan mengutus kepada umat ini, setiap kurun seratus tahun, man (bias diartikan orang/individu, dan jga sebuah jama’ah /kolektif) yang akan memperbaharui kembali ajaran Islam.

Generasi berikutnya adalah kita yang dituntut untuk bekerja lebih keras lagi dan dinamis dalam berfikir. Bukan artinya kita tidak boleh merasa membanggakan diri dengan sejarah msa lalu yang gemilang (euphoria nostalgia sejarah), tapi lebih dari itu dengan membuktikan semangat baru dalam membangun peradaban Negara ini. Bukankah Imam Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhahu berkata dalam sebuah pernyataannya yang berbunyi “ajarilah anak-anak kamu sesuai dengan kebutuhan zamannya, karena mereka akan hidup di suatu zaman setelah kamu.

Paradigma baru yang dibutuhkan Persis dalam wacana pemikiran adalah wawasan fiqih yang komprehensif (falsafat fiqih). Esensi ini dari paradigma ini adalah menerima pluralitas atau keragaman sebagai suatu realitas yang wajar ( bahkan dianjurkan sebagian ulama fiqih guna membangun tradisi berfikir serta memperkaya khazanah intelektual ke-islaman). Siapkah Persis membangun hal tersebut dimasa kini dan di masa yang akan datang?

Buku ini memberikan pemahaman tentang sepak terjang Persis saat mulai berdiri hingga kini ditanggapi oleh kelompok yang terhimpun dalam “Forum Silaturrahmi Persatuan Islam” ( FOSPI) yaitu sebuah wadah yang menampung berbagai alumni Pesantren Persis dan juga simpatisan Persis yang berada di Luar Negeri, khususnya Timur Tengah. Buku ini dimaksudkan untuk memberikan sebuah renungan atau tawaran bagi masa depan persis. Kaitannya bukan mencari jawaban siap atau tidak, ya atau tidak. Setidaknya ada tiga poin yang ditawarkan dalam penulisan buku ini, yaitu : pertama, melacak akar perjuangan Persis, kedua, merumuskan khittah perjuangan Persis, dan ketiga, harapan baru jam’iyyah Persis.

Tujuan pembuatan buku ini diataranya : pertama, ikut memberikan kontribusi pemikiran yang berarti bagi perkembangan masa depan Persis, kedua, merumuskan kembali paradigma Persis yang sesuai dengan realitas zaman tanpa membuang atau menghilangkan peranan para pendiri juga para sesepuh Persis, ketiga, mencoba untuk menjawab kekeringan berfikir yang sedang terjadi, sekaligus untuk memenuhi tuntutan eksistensi keberadaan generasi muda Persis saat ini.

Beberapa hal yang kurang dalam buku ini diantaranya penampilan cover buku yang tidak mewakili judul padahal isinya cukup menarik untuk dikaji. Wacananya terkesan ideal namun cukup menggugah pemikiran untuk lebih mendalami dalam kajian-kajian diskusi. Ide –ide kritis yang banyak mengalir dalam buku ini kurang ditonjolkan dalam segi tulisannya.

Disamping itu buku ini sangat bagus untuk dibaca karena banyak hal-hal yang menjadi pola-pola kearah lebih baik dalam mengelola sebuah organisasi khususnya Organisasi Masyarakat. Buku ini. penting untuk dikaji secara lebih mendalam, dan akan membuka cakrawala berpikir yang lebih luas. Permasalahan kajian dalam buku ini akan membawa pembaca menggambarkan bentuk sebuah paradigma Persis modern. Baik dalam wacana organisasi, wacana pemikiran, tatanan konsep maupun praktis. ***

TERAS REDAKSI

Seiring dengan arus perkembangan zaman, teknologi informasi semakin ketat bersaing untuk meraih informasi secara cepat dan akurat. Untuk mengimbangi hal tersebut Web Persis hadir untuk para pencari informasi khususnya dalam pengkajian Keislaman dan Organisasi Masyarakat sebagai wujud kontribusi dan sosialisasi Organisasi Persis dengan berbagai elemen masyarakat.

Dalam Kolom ini kami mengantarkan Pembaca untuk memasuki tema yang akan kami hadirkan setiap dua pekan sekali untuk mempermudah pembaca dalam pemilihan tema yang aktual sesuai komentar-komentar yang masuk di web ini.

Ramai dibicarakan orang tentang kasus BLT (Bantuan Langsung Tunai) untuk masyarakat kecil yang mengandung kontroversial dari semua kalangan. Berawal dari kenaikan harga kebutuhan pokok menyebabkan kesenjangan sosial yang sangat signifikan. Sedangkan tindakan Pemerintah terkesan hanya memberikan bantuan sementara tidak untuk dibekali sebuah jalan keluar yang sifatnya jangka panjang.

Belum lagi naiknya harga BBM (Bahan Bakar Minyak) yang lagi-lagi menyalahkan pemerintah yang tidak becus dalam penanganan memimpin sebuah Negara. Pengendara kendaraan mengerutkan dahi karena ini sudah terlalu tinggi. Belum lagi para penumpang kendaraan umum yang harus rela berkorban menambah 20% dari ongkosnya untuk mengimbangi penghasilan para Pengemudi angkutan umum.

Jeritan rakyat kecil yang ingin mempertahankan hidupnya seolah menjadi hal yang biasa. Pengemis semakin bertambah, pengekploitasian anak-anak semakin marak dijalanan, busung lapar dipetiemaskan dan gizi buruk sudah sampai manakah penanggulanannya. Beruntung masih ada lembaga social yang masih peduli pada mereka namun itupun tidak mencukupi kapasitas yang ada.

Masih belum berakhir semangatnya hari kebangkitan nasional kemarin digemakan lewat televisi yang memperlihatkan kekayaan Indonesia dengan pesan sosial bahwa Indonesia bangkit untuk memberikan semangat baru dan sinergi menuju adil dan makmur. Namun apakah hal tersebut menjadikan kebangkitan juga untuk seluruh rakyat Indonesia dalam memahami dan saling bahu membahu menciptakan kebangkitan negeri yang terpuruk karena krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Siapa yang harus disalahkan ketika seluruh aspek kehidupan mulai tak tentu tujuan. Glamoritas tidak sepadan dengan angka kemiskinan di negeri ini. Si miskin seharusnya tidak berpangku tangan, Si kaya seharusnya tidak menggenggam tangan. Mari kita cari solusi dengan sama-sama memikirkan jalan keluarnya, bukan hanya bicara tapi dengan tindakan yang real yang bisa memberikan kontribusi. Saatnya meninggalkan individualisme dan mulai menata kehidupan sesuai dengan porsi dan rel yang telah dijalurkan. Ideal memang, namun perubahan itu harus ada. Seperti apakah wujud Indonesia masa yang akan datang jika sekarang begini, meminjam lirik sebuah lagu “Apa kata dunia??? “ Selamat membaca…

3 komentar:

aLumNUs BalZ mengatakan...

teruskanlah perjuangan mu
semoga engkau slalu semangat dan terus semangat dalam mengahdi hidup ini,

kerena aku yakin engkau bisa
salam dari teman mu dekatmu............

nawawi mengatakan...

Terus tegakan al-qur'an dan assunah hingga akhir hayat. Perangi tahayul, bid'ah, khurofat (TBC).

Dani Hidayat mengatakan...

Unduh file-file ceramah ust. dari Persis di maktabah-alhidayah.tk

Posting Komentar