SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM PERSIS (STAIPI)

MEDIA DAKWAH DAN ILMU PENGETAHUAN

Subscribe
Add to Technorati Favourites
Add to del.icio.us
9.13.2011

Biografi A. Hasan

Diposkan oleh aLumNUs BalZ

A. Riwayat Hidup dan Keluarga A. Hassan

Sekitar 500-600 tahun yang lalu ada sekelompok penduduk Kairo yang berpengaruh, namun karena merasa kurang senang dengan rezim rajanya, akhirnya, mereka hijrah meninggalkan Mesir menuju India dengan kapal layar yang terbuat dari kayu. Setibanya di India, mereka digelar “Maricar” yang berarti kapal layar. Mereka bermukim di Kail Patnam dengan berdagang. Melihat rupa dan bentuknya kemungkinan mereka berasal dari Parsi. Di antara nenek moyangnya, selain pedagang, juga terdapat ulama pujangga. Di sinilah asal keturunan nenek moyang A. Hassan.[1]

A. Hassan lahir pada tahun 1887 M. di Singapura. Ayahnya bernama Ahmad Sinna Vappu Maricar yang digelari “Pandit berasal dari India dan ibunya bernama Muznah berasal dari Palekat, Madras. Ahmad menikahi Muznah di Surabaya ketika ia berdagang di kota tersebut, kemudian menetap di Singapura. Ahmad adalah seorang pengarang dalam bahasa Tamil dan pemimpin surat kabar “Nurul Islam” di Singapura. Ia suka berdebat dalam masalah bahasa dan agama serta mengadakan tanya jawab dalam surat kabarnya.[2]

A. Hassan menikah pada tahun 1911 M. dengan Maryam peranakan Melayu-Tamil di Singapura. Dari pernikahannya ini ia dikaruniai tujuh orang putra-putri; (1) Abdul Qadir, (2) Jamilah, (3) Abdul Hakim, (4) Zulaikha, (5) Ahmad, (6) Muhammad Sa‘id, (7) Manshur.

B. Pendidikan

A. Hassan belajar al-Qur’an pada umur sekitar tujuh tahun, kemudian masuk di Sekolah Melayu. Ayahnya sangat menekankan agar Hassan mendalami bahasa Arab, Inggris, Melayu dan Tamil di samping pelajaran-pelajaran lain.[3]

Guru-gurunya antara lain adalah H. Ahmad di Bukittiung dan Muhammad Thaib di Minto Road. Walaupun kedua gurunya ini bukanlah seorang alim besar namun untuk ukuran daerahnya keduanya cukup disegani dan dihormati. Kepada Muhammad Thaib, Hassan belajar nahwu dan sharaf, namun kira-kira empat bulan kemudian, ia merasa tidak memiliki kemajuan, karena hanya menghafal saja tanpa dimengerti, semangat belajarnya pun menurun. Dalam keadaan seperti itu, untunglah gurunya naik haji. Akhirnya, A. Hassan beralih belajar bahasa Arab kepada Said Abdullah al-Musawi sekitar kurang lebih tiga tahun. Selain itu, A. Hassan belajar kepada Syeikh Hassan al-Malabary dan Syeikh Ibrahim al-Hind. Semuanya ditempuh hingga kira-kira tahun 1910 M., ketika ia berumur 23 tahun. Walaupun pada masa ini A. Hassan belum memiliki pengetahuan yang luas tentang tafsīr, fiqh, farā‘id, manthiq, dan ilmu-ilmu lainnya, namun dengan ilmu alat yang ia miliki itulah yang kemudian mengantarkannya memperdalam pengetahuan dan pemahaman terhadap agama secara otodidak.

Sekitar tahun 1912 M.-1913 M., Hassan bekerja sebagai dewan redaksi “Utusan Melayu” yang diterbitkan oleh Singapore Press, dalam surat kabar ini, Hassan banyak menulis tentang masalah agama seputar nasehat-nasehat, anjuran berbuat baik dan mencegah kejahatan yang kebanyakannya dalam bentuk syair. Ia pernah menulis, mengecam qadhi yang memeriksa perkara dalam ruang sidang dengan mengumpulkan tempat duduk antara pria dan wanita (ikhtilāth). Bahkan pernah dalam salah satu pidatonya mengecam kemunduran ummat Islam, sehingga karena sebab itu ia tidak diperkenankan menyampaikan pidato lagi.

Pada tahun 1921 M., A. Hassan berangkat ke Surabaya (Jawa Timur) untuk berdagang dan mengurus toko milik Abdul Lathif pamannya, namun sebelum A. Hassan berangkat, pamannya berpesan agar sesampainya nanti di Surabaya ia tidak bergaul dengan seseorang yang bernama Faqih Hasyim karena dianggap sesat dan berfaham Wahhabi.

Berawal dari pertemuannya dengan Abdul Wahhab Hasbullah yang kemudian mengajukan pertanyaan kepadanya mengenai hukum membaca ushalliy sebelum takbirat al-ihrām. Sesuai dengan pengetahuannya ketika itu, A. Hassan menjawab bahwa hukumnya “sunnah”. Ketika ditanyakan lagi mengenai alasan hukumnya, ia menjawab bahwa soal alasannya dengan mudah dapat diperoleh dari kitab manapun juga. Namun dari pertemuan ini, ia heran, mengapa soal semudah itu yang dipertanyakan kepadanya. Setelah menceritakan perbedaan-perbedaan antara Kaum Tua dan Kaum Muda, Abdul Wahhab Hasbullah meminta agar A. Hassan memberikan alasan sunnatnya membaca ushalliy dari al-Qur‘an dan Hadis, karena menurut Kaum Muda, agama hanyalah apa yang dikatakan Allah dan Rasul-Nya. A. Hassan kemudian berjanji akan memeriksa dan menyelidiki masalah itu. Tetapi sesuatu yang berkembang menjadi keyakinan dihatinya bahwa agama hanyalah apa yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya. Keesokan harinya A. Hassan mulai memeriksa kitab Shahīh al-Bukhāriy dan Shahīh Muslim, dan mencari ayat-ayat al-Qur‘an mengenai alasan sunnatnya ushalliy namun ia tidak menemukannya, pendiriannya membenarkan Kaum Muda akhirnya bertambah tebal.

Maksud awalnya hendak berdagang kemudian berubah, bahkan kemudian A. Hassan bergaul rapat dengan Faqih Hasyim salah seorang pentolan Kaum Muda di Surabaya itu. Pada tahun 1924 M., A. Hassan berangkat ke Bandung untuk mempelajari pertenunan, di sinilah ia berkenalan dengan tokoh pendiri organisasi PERSIS (Persatuan Islam), yang kemudian A. Hassan diangkat menjadi guru Persatuan Islam.

C. Geneologi Pemikiran

Seorang tokoh pemikir, seperti halnya A. Hassan, pasti memiliki latar belakang yang mempengaruhi corak berfikirnya, baik itu keluarga, pendidikan, pergaulan serta setting sosial yang melingkupi sehingga membentuk karakter berfikirnya.

Pada abad kedelapan belas, penolakan terhadap taklid dan perhatian terhadap studi Hadis sedang berkembang, yang dipelopori oleh Syah Waliyyullah al-Dahlawiy di India dan Muhammad al-Syawkāniy di Yaman. Maka, pada abad kesembilan belas muncullah gerakan Ahl-i-Hadis di India, yang dalam masalah-masalah hukum, Ahl-i-Hadis mengkombinasikan penolakan terhadap taklid dalam tradisi pemikiran al-Dahlawiy dan al-Syawkāniy dengan tekstualitas pemahaman yang merupakan gagasan pemikiran Zhahiriy. Seperti orang Zhahiriy, Ahl-i-Hadis cenderung tekstual dalam memahami al-Qur‘an dan Hadis, di samping itu mereka sepenuhnya menolak kewenangan ijmā, kecuali ijmā’ sahabat. Dari sisi karakternya, antara gerakan Ahl-i-Hadis di India dan gerakan Wahhabiy di Arab adalah sama, hanya saja dalam pertumbuhannya berjalan masing-masing.

Keluarga A. Hassan adalah keluarga yang berasal dari India. Ayahnya, Ahmad, dikenal sebagai sarjana Tamil yang memiliki karakter keras tidak membenarkan ushalliy, tahlilan, talqin, dan lain sebagainya, sebagaimana faham Ahl-i-Hadis dan Wahhabiy pada umumnya. Demikian pula beberapa orang India di Singapura, seperti Thalib Rajab Ali, Abdul Rahman, Jailani, yang juga dikenal sebagai orang-orang yang berfaham Wahhabiy.

A. Hassan adalah seorang sosok yang otodidak, karena pendidikan formal yang dilaluinya hanya di Sekolah Melayu. Walaupun demikian, ia menguasai bahasa Arab, Inggris, Tamil, dan Melayu yang dapat digunakan olehnya dalam pengembaraan intelektualnya. Pada masa itu, ia telah membaca majalah Al-Manār yang diterbitkan oleh Muhammad Rasyid Ridha di Mesir, majalah Al-Imām yang diterbitkan oleh ulama-ulama Kaum Muda di Minangkabau. Selain itu, A. Hassan telah mengkaji kitab Al-Kafa‘ah karya Ahmad al-Syurkati, Bidāyat al-Mujtahid karya Ibnu Rusyd, Zād al-Ma‘ād karya Ibnu Qayyim al-Jawziyyah, Nayl al-Awthār karya Muhammad Ali al-Syawkāniy, dan Subul al-Salām karya al-Shan‘āniy. Semua bacaan-bacaan itu, cukup mempengaruhi corak berfikirnya.

Pergaulan A. Hassan pun cukup luas, di antara sahabat-sahabatnya adalah Faqih Hasyim, Ahmad Syurkatiy, H.O.S. Cokroaminoto, H. Agus Salim, Mas Mansur, H. Munawar Chalil, Soekarno, Muhammad Maksum, Mahmud Aziz, dan lain-lain.

Pada tahun 1940 M., A. Hassan pindah ke Bangil, Jawa Timur, dan mendirikan Pesantren Persatuan Islam Bangil, ia tetap mengajar dan menulis di majalah Himāyat al-Islām (حِمَايَةُ الإِسْلاَمِ) yang diterbitkannya hingga wafat pada 10 Nopember 1958 M. dan dimakamkan di Pekuburan Segok, Bangil.

Dari madrasah A. Hassan, muncul Abdul Qadir Hassan sebagai pewaris keilmuannya, dilanjutkan oleh kedua cucunya, Ghazie Abdul Qadir Hassan, Hud Abdullah Musa, Luthfie ‘Abdullah Isma’īl, selain itu murid-murid Abdul Qadir yang mewarisi keilmuannya antara lain; Aliga Ramli, Ahmad Husnan, Muhammad Haqqiy, dan masih banyak yang lain.

D. Karya-karya Ilmiyah

A. Hassan adalah salah seorang tokoh pemikir yang produktif menuliskan ide-idenya baik di majalah-majalah maupun dalam bentuk buku. Karya-karya tulisnya, antara lain:

1. Dalam bidang Al-Qur‘an dan Tafsir: Tafsir Al-Furqān, Tafsir Al-Hidāyah, Tafsir Surah

Yāsīn, dan Kitab Tajwīd.

2. Dalam bidang Hadis, Fiqh, dan Ushūl Fiqh: Soal Jawab: Tentang Berbagai Masalah

Agama, Risalah Kudung, Pengajaran Shalat, Risalah Al-Fātihah, Risalah Haji, Risalah

Zakāt, Risalah Ribā, Risalah Ijmā‘, Risalah Qiyās, Risalah Madzhab, Risalah Taqlīd,

Al-Jawāhir, Al-Burhān, Risalah Jum‘at, Hafalan, Tarjamah Bulūg al-Marām,

Muqaddimah Ilmu Hadis dan Ushūl Fiqh, Ringkasan Islam, dan Al-Fara‘idh.

3. Dalam bidang Akhlaq: Hai Cucuku, Hai Putraku, Hai Putriku, Kesopanan Tinggi

Secara Islam.

4. Dalam bidang Kristologi: Ketuhanan Yesus, Dosa-dosa Yesus, Bibel Lawan Bibel,

Benarkah Isa Disalib?, Isa dan Agamanya.

5. Dalam bidang Aqidah, Pemikiran Islam, dan Umum: Islam dan Kebangsaan,

Pemerintahan Cara Islam, Adakah Tuhan?, Membudakkan Pengertian Islam, What is

Islam?, ABC Politik, Merebut Kekuasaan, Risalah Ahmadiyah, Topeng Dajjāl, Al-

Tauhid, Al-Iman, Hikmat dan Kilat, An-Nubuwwah, Al-‘Aqā’id, al-Munāzharah, Surat-

surat Islam dari Endeh, Is Muhammad a True Prophet?

6. Dalam bidang Sejarah: Al-Mukhtār, Sejarah Isrā‘ Mi’rāj,

7.Dalam bidang Bahasa dan Kata Hikmat: Kamus Rampaian, Kamus Persamaan, Syair,

First Step Before Learning English, Al-Hikam, Special Dictionary, Al-Nahwu, Kitab

Tashrīf, Kamus Al-Bayān, dan lain-lain. [4]

Dari karya-karya ilmiyah yang telah diwariskan A. Hassan tersebut, dapat dilihat betapa luas ilmu yang ia geluti, yang secara umum Endang Saifuddin Ansari dalam makalah seminar tentang pemikiran A. Hassan di Singapura Tahun 1979 M. mengelompokkan secara garis besarnya sebagai berikut:

1. Mengenai Muhammad Rasulullah saw.;

2. Mengenai Sumber Norma dan Nilai Islam: al-Qur’an dan al-Sunnah;

3. Mengenai Aqidah;

4. Mengenai Syari‘ah: ‘ibadah dan mu’amalah;

5. Mengenai Akhlak;

6. Mengenai Studi Islam (Dirāsat Islamiyyah): Ilmu Tauhid dan Ilmu Kalam, Ilmu Fiqh dan Ushūl Fiqh, Ilmu Akhlak, Ilmu Tasawwuf, dan lain sebagainya.

7. Mengenai pelbagai soal hidup lainnya, seperti: politik, ekonomi, sosial, kesenian, ilmu pengetahuan, filsafat, bahasa, perbandingan agama, dan lain sebagainya.

E. Metode A. Hasan Dalam Takhrij Hadits

Dalam hal metode takhrij al-hadīts ini, selama berbulan-bulan penulis mengkaji dan meneliti kitab-kitab karya A. Hassan, namun penulis tidak menemukan penjelasan tentang metode takhrīj yang digunakannya. Setelah salah seorang guru penulis, Salam Russyad, berkunjung ke rumah di Gowa pada Januari lalu, penulis mengambil kesempatan untuk bertanya tentang masalah ini, dan menurutnya, “A. Hassan nampaknya memang belum menggunakan metode takhrīj al-hadīts sebagaimana lima metode tersebut. Persoalannya, buku-buku semacam itu sangat langka pada masanya. Namun, lanjutnya, kitab Nayl al-Awthār karya al-Syawkāniy dan Subul al-Salām karya al-Shan‘āniy, serta kitab-kitab lainnya, seperti syuruh al-hadīts yang dimiliki A. Hassan sudah cukup membantunya menelusuri sanad dan matan Hadis kepada kitab aslinya, dan ini termasuk salah satu cara takhrīj pada masa itu”.

Ketika penulis mengkaji buku Mengenal Muhammad (Al-Nubuwwah) karya A. Hassan, pada kata pengantarnya ia mengemukakan:

“Isi kitab ini saya ambil dari: … … Al-Jāmi‘ al-Shagīr”.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa A. Hassan telah memiliki salah satu kitab yang biasa dipakai dalam kegiatan takhrīj al-hadīts metode ke-2 sebagaimana penjelasan di atas.

Dari kegiatan takhrīj al-hadīts maka hal yang sangat bermanfaat antara lain; (1) terkumpulnya berbagai sanad dengan berbagai lambang periwayatan dari suatu Hadis, dan (2) terkumpulnya berbagai redaksi dari sebuah matan Hadis yang sedang diperiksa. Dapat penulis simpulkan bahwa dengan menggunakan metode takhrīj al-hadīts maka seorang pemeriksa Hadis dapat mengetahui asal-usul dan seluruh sanad dan matan Hadis yang diperiksa, serta ada atau tidaknya syāhid atau mutābi‘.

A. Hassan mengemukakan contoh di bawah ini, yaitu Hadis kedatangan Jibrīl bertanya tentang iman, islam, dan ihsan kepada Nabi Muhammad shalla Allāh ‘alayhi wa sallam di hadapan para sahabat yang diriwayatkan oleh Al-Bukhāriy melalui jalan sahabat Abū Hurayrah radhiya Allāh ‘anhu. Al-Bukhāriy berkata:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدُ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيْل بْنُ إِبْرَاهِيْمَ أَخْبَرَنَا أَبُوْ حَيَّانَ التَّيْمِي عَنْ أَبِيْ زُرْعَةَ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ جِبْرِيْلُ فَقَالَ مَا الإِيْمَانُ؟ قَالَ: ((الإِيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ ……))

Musaddad ceritakan kepada kami, ia berkata: Isma‘īl ibn Ibrāhīm ceritakan kepada kami, ia berkata: Abū Hayyān al-Taymiy khabarkan kepada kami, dari Abū Zur‘ah, dari Abū Hurayrah, ia berkata: Nabi shalla Allāh ‘alayhi wa sallam pada suatu hari pernah keluar menemui para sahabat, lalu datanglah Jibrīl bertanya, apa iman itu? Nabi shalla Allāh ‘alayhi wa sallam menjawab: “Iman itu ialah engkau percaya kepada Allah, Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, rasul-rasul-Nya, dan bahwa engkau percaya kepada pembangkitan (sesudah mati) …

Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhāriy, Muslim, dan Ibnu Mājah. Untuk menelusurinya lebih lanjut, seseorang yang sedang melakukan kegiatan takhrīj, dapat menggunakan kitab Al-Jāmi‘ al-Shagīr fī Ahādīts al-Basyīr al-Nadzīr karya al-Suyūthiy, sebagaimana kitab yang ada pada A. Hassan. Hasil yang didapatkan adalah sebagai berikut:

Hadis no. 3092:

الإِيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. (م 3) عن عمر (صحـ)

Hadis no. 3093:

الإِيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَالْمِيْزَانِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. (هب) عن عمر (صحـ)

Pada akhir matan Hadis no. 3092 terdapat symbol (م 3) عن عمر (صحـ) maksudnya, Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim, Abū Dāwud, al-Nasā’iy, dan al-Turmudziy, dari ‘Umar ibn al-Khaththāb, dengan kualitas shahīh. Demikian pula pada akhir matan Hadis no. 3093 terdapat symbol (هب) عن عمر (صحـ) maksudnya, Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bayhaqiy dalam kitabnya, Syu‘ab al-Īmān, dari ‘Umar ibn al-Khaththāb, dengan kualitas shahīh pula. Demikian menurut al-Suyūthiy.

Setelah Hadis-Hadis tersebut diketahui sumber kitabnya, maka seseorang yang sedang memeriksa Hadis ini harus terus menelusuri dan mengumpulkan seluruh sanad dan matan-nya masing-masing dari kitab-kitab para Pendaftar Hadis tersebut untuk kemudian dibuatkan gambaran sanad-nya.

b. Gambaran Sanad

Setelah mengadakan kegiatan takhrīj al-hadīts maka langkah selanjutnya adalah pemeriksaan terhadap sanad yaitu dengan melakukan kegiatan al-i‘tibār terlebih dahulu atau dalam istilah A. Hassan dinamai “gambaran sanad”. Hal ini dilakukan agar supaya orang yang memeriksa Hadis dapat mengetahui ada atau tidak adanya pendukung berupa periwayat yang berstatus syāhid atau mutābi‘.

Contoh gambaran sanad Hadis kedatangan Jibrīl bertanya tentang iman, islam, dan ihsan tersebut di atas, melalui jalan sahabat Abū Hurayrah radhiya Allāh ‘anhu

Gambaran sanad Hadis riwayat Ahmad, sebagai berikut:

1. Ahmad (haddatsanā) 2. Isma‘īl ibn Ibrāhīm (haddatsanā) 3. Abū Hayyān al-Taymiy (‘an) 4. Abū Zur‘ah, (‘an) 5. Abū Hurayrah radhiya Allāh ‘anhu, (qāla) 6. Al-Nabiy shalla Allāh ‘alayhi wa sallam

Gambaran sanad Hadis riwayat al-Bukhāriy, sebagai berikut:

1. Al-Bukhāriy (haddatsanā) 2. Musaddad (haddatsanā) 3. Isma‘īl ibn Ibrāhīm (akhbaranā) 4. Abū Hayyān al-Taymiy (‘an) 5. Abū Zur‘ah, (‘an) 6. Abū Hurayrah radhiya Allāh ‘anhu, (qāla) 7. Al-Nabiy shalla Allāh ‘alayhi wa sallam

Gambaran sanad Hadis riwayat Muslim, sebagai berikut:

1. Muslim (haddatsanā) 2. Abū Bakr ibn Abī Syaybah dan Zuhayr ibn Harb (haddatsanā) 3. Isma‘īl ibn Ibrāhīm (‘an) 4. Abū Hayyān al-Taymiy (‘an) 5. Abū Zur‘ah, (‘an) 6. Abū Hurayrah radhiya Allāh ‘anhu, (qāla) 7. Al-Nabiy shalla Allāh ‘alayhi wa sallam

Gambaran sanad Hadis riwayat al-Nasā’iy, sebagai berikut:

1. Al-Nasā’iy (akhbaranā) 2. Muhammad ibn Qudāmah ibn A‘yun al-Qurasyiy (‘an) 3. Jarīr ibn Abd al-Hamīd al-Tsaqafiy (‘an) 4. Abū Farwah ‘Urwah ibn al-Hārits al-Hamdāniy (‘an) 5. Abū Zur‘ah ibn ‘Amr, (‘an) 6. Abū Hurayrah dan Abū Dzarr al-Gifāriy radhiya Allāh ‘anhuma, (qālā) 7. Al-Nabiy shalla Allāh ‘alayhi wa sallam

Gambaran sanad Hadis riwayat Ibnu Mājah, sebagai berikut:

1. Ibnu Mājah (haddatsanā) 2. Abū Bakr ibn Abī Syaybah (haddatsanā) 3. Isma‘īl ibn Ibrāhīm (‘an) 4. Abū Hayyān al-Taymiy (‘an) 5. Abū Zur‘ah, (‘an) 6. Abū Hurayrah radhiya Allāh ‘anhu, (qāla) 7. Al-Nabiy shalla Allāh ‘alayhi wa sallam

c. Syāhid dan Mutābi‘

A. Hassan menjelaskan pengertian syāhid yang artinya penyaksi, umpamanya, jika ada satu Hadis Nabi Muhammad shalla Allāh ‘alayhi wa sallam yang diriwayatkan oleh al-Bukhāriy, dari jalan Ibnu ‘Abbās radhiya Allāh ‘anhu, kemudian Hadis yang sama maknanya itu diriwayatkan pula melalui jalan sahabat lain, maka jalan sahabat lain inilah dinamakan syāhid. Adapun Mutābi‘ artinya yang mengikuti atau yang mengiringi, umpamanya, bila Hadis tadi, diriwayatkan dari Ibn Abbās juga, maka yang ini dinamakan mutābi‘.

Jadi, syāhid itu adalah satu Hadis yang matan-nya mencocoki matan Hadis lain, dan biasanya sahabat yang meriwayatkannya pun berlainan.

Contoh matan Hadis kedatangan Jibrīl bertanya tentang iman, islam, dan ihsan tersebut di atas, melalui jalan sahabat Abū Hurayrah radhiya Allāh ‘anhu. Setelah diperiksa melalui gambaran sanad, ternyata terdapat sahabat Abū Dzarr al-Gifāriy dan ‘Umar ibn al-Khaththāb radhiya Allāh ‘anhuma yang menjadi syāhid-nya, demikian seterusnya, walaupun lafazh matan-nya ada perbedaan, namun maknanya mencocoki, inilah yang disebut syāhid ma‘nan. Bila lafazhnya sama disebut syāhid lafzhan.

Adapun mutābi‘ itu adalah satu Hadis yang sanad-nya menguatkan sanad lain dari Hadis itu juga.

Contoh sanad Hadis kedatangan Jibrīl bertanya tentang iman, islam, dan ihsan tersebut di atas, melalui jalan sahabat Abū Hurayrah radhiya Allāh ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Bukhāriy, ia berkata: (haddatsanā) Musaddad (haddatsanā) Isma‘īl ibn Ibrāhīm, dst. dan pada sanad Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, ia berkata: (haddatsanā) Abū Bakr ibn Abī Syaybah dan Zuhayr ibn Harb (haddatsanā) Isma‘īl ibn Ibrāhīm, dst. ternyata antara guru al-Bukhāriy, yakni Musaddad dan dua guru Muslim, yakni Abū Bakr ibn Abī Syaybah dan Zuhayr ibn Harb sama-sama menerima Hadis di atas dari Isma‘īl ibn Ibrāhīm. Guru-guru Muslim itulah yang disebut mutābi‘.

A. Hassan mengemukakan definisi Hadis sahih menurut pandangannya, sebagai berikut: “Hadis yang sah datangnya dari Nabi saw. yaitu Hadis yang didengar dari Nabi oleh seorang rawi A; dan A menyampaikan pada B; dan B menyampaikan pada C; dan C menyampaikan pada D; dan seterusnya begitu sampai tertulis di kitab-kitab Hadis para imam-imam yang masyhur. Tiap-tiap rawi dari A, B dan seterusnya itu, harus bersifat kepercayaan.”

Definisi yang dikemukakan oleh A. Hassan ini, memberi kesan bahwa ia telah menyederhanakan kaedah kesahihan Hadis menjadi dua saja, yaitu; (1) sanad-nya bersambung, (2) diriwayatkan oleh orang-orang yang kepercayaan (tsiqah). Penyederhanaan ini, sudah jāmi‘un māni‘un (menghimpun seluruh kaedah dan tidak mengurangi sedikitpun ketercakupannya itu) terhadap bagian-bagian dari definisi yang telah dikemukakan oleh muhadditsīn sebelumnya.

A. Hassan melanjutkan penjelasannya tentang sifat-sifat orang yang ia sebut kepercayaan (tsiqoh) itu sebagai berikut : “Orang yang bersifat kepercayaan itu paling sedikit harus punya empat sifat : (1) bulūg (cukup umur), yakni hendaklah ia sudah cukup umur waktu menyampaikan Hadis yang ia dengar itu, walaupun waktu ia mendengarnya itu, ia masih kecil. (2) Islam, yakni cukuplah ia Islam waktu menyampaikan Hadis itu. (3) ‘adālah artinya keadilan, yakni hendaklah ia bersifat ‘ādil di waktu menyampaikan Hadis itu. Yang dikatakan ‘ādil itu, yaitu orang yang; tidak terdengar atau terlihat ia mengerjakan dosa besar teristimewa dusta dan khianat, tidak selalu mengerjakan dosa-dosa kecil, tidak melanggar kesopanan kaumnya yang tidak dilarang oleh agama. (4) dhābith, artinya tetap, tegak, beres dan lain-lain yang searti dengan itu. Maksudnya di sini ialah kuat ingatannya, tidak biasa lupa atau keliru pada meriwayatkan sesuatu Hadis.”

F. Cara Memeriksa Setiap Rawi dan Metode Periwayatannya

A. Hassan mengemukakan bahwa untuk mengetahui sahih tidaknya masing-masing Hadis, lebih dahulu perlu diketahui semua rawi-rawinya, lalu memeriksanya di kitab-kitab rijāl al-hadīts, terutama kitab Mīzān al-I‘tidāl karya al-Dzahabiy, kalau rawi-rawi tersebut semua termasuk orang-orang yang kepercayaan (tsiqah) atau tidak terdapat orang-orang yang tercela, maka Hadis itu boleh dimasukkan dalam bilangan Hadis hasan atau Hadis sahih, menurut kedudukannya masing-masing.

Orang yang meriwayatkan Hadis dari zaman Nabi Muhammad saw. hingga abad pen-tadwin-an (pengumpulan) Hadis dalam kitab-kitab, baik itu periwayat dari kalangan sahabat, tābi‘īn, dan seterusnya, orang-orang yang terkenal besarnya atau terkenal sebagai orang yang berdusta, orang-orang yang saleh atau fasik, penurut sunnah dengan betul atau ahli bid‘ah sekalipun jahatnya itu tidak diketahui, laki-laki atau perempuan, anak-anak atau orang dewasa, semua mereka itu, telah didaftarkan oleh ulama akan nama-nama mereka beserta tarikh riwayat hidup (biografi) masing-masing sedapat-dapatnya.

Kitab-kitab yang menerangkan tarikh rawi-rawi itu ada banyak dan bermacam-macam metode penulisannya, ada yang bercampur antara perawi sahih dan dha‘īf, seperti Tahdzīb al-Tahdzīb karya Ibnu Hajar al-‘Asqalāniy dan Mīzān al-I‘tidāl karya al-Dzahabiy; ada yang menerangkan rawi-rawi yang baik dan yang boleh dipercaya saja, seperti kitab Al-Tsiqāt karya Abu al-Hasan Ahmad ibn ‘Abdillāh ibn Shālih al-‘Ijliy dan Al-Tsiqāt karya Ibnu Hibbān al-Busthiy; ada yang pisahkan (khususkan) rawi-rawi yang lemah, pendusta, fasik, dan sebagainya, seperti kitab Al-Dhu‘afā’ al-Kabīr karya al-Bukhāriy dan Al-Kāmil fī Dhu‘afā’ al-Rijāl karya Abu Ahmad Abdullah ibn ‘Adiy al-Jurjāniy; ada yang sendirikan rawi-rawi dari kalangan sahabat saja, seperti kitab Al-Isti‘āb fī Ma‘rifat al-Ashhāb karya Ibnu ‘Abd al-Barr dan Usud al-Gābat fī Ma‘rifat Asmā’ al-Shahābah karya Ibnu al-Atsīr al-Jazriy; demikianlah seterusnya.

A. Hassan menyebutkan pula beberapa kitab-kitab yang menerangkan biografi para perawi Hadis yang ada padanya, antara lain; (1) Tahdzīb al-Tahdzīb karya Ibnu Hajar al-‘Asqalāniy, terdiri dari 12 Juz, mengandung 12.460 nama rawi. (2) Lisān al-Mīzān karya Ibnu Hajar al-‘Asqalāniy, terdiri dari 6 Juz, mengandung 15.343 nama rawi. (3) Mīzān al-I‘tidāl karya al-Dzahabiy, terdiri dari 3 Juz ukuran besar, mengandung 10.907 nama rawi. (4) Al-Ishābah karya Ibnu Hajar al-‘Asqalāniy, terdiri dari 8 Juz besar, kitab ini khusus menerangkan riwayat hidup sahabat-sahabat Nabi saw. dsb., mengandung 11.279 nama sahabat. (5) Usud al-Gābat fī Ma‘rifat Asmā’ al-Shahābah karya Ibnu al-Atsīr al-Jazriy, terdiri dari 4 Jilid, mengandung 7.500 nama sahabat Nabi. (6) Al-Tārīkh al-Kabīr karya al-Bukhāriy, sebanyak 6 Jilid, mengandung 9.048 rawi Hadis. (7) Al-Fihris karya Ibn Nadīm, terdiri dari 10 Juz tipis. (8) Al-Badr al-Thāli‘ karya al-Syawkāniy, ada 2 Juz, mengandung 441 nama rawi, dan ada Mulhaq-nya 1 Juz. (9) Al-Jarh wa al-Ta‘dīl karya Ibn Abīy Hātim, ada 9 Jilid sedang, mengandung 18.040 nama rawi-rawi. (10) Al-Durar al-Kāminah karya Ibnu Hajar al-‘Asqalāniy, terdiri dari 4 Juz, yang mengandung 5320 nama-nama. (11) Nuzhat al-Khawāthir karya Abd al-Hayy al-Hasaniy, ada 3 Jilid, mengandung 807 nama-nama ulama India yang ada sangkut pautnya dengan sanad-sanad Hadis. (12) Ta‘jīl al-Manfa‘ah karya Ibnu Hajar al-‘Asqalāniy, terdiri dari 1 Juz, yang mengandung 1733 nama rawi yang tidak terdapat pada kitabnya Tahdzīb al-Tahdzīb. [13] Thabaqāt al-Mudallisīn karya Ibnu Hajar al-‘Asqalāniy, terdiri dari 1 Juz. [14] ‘Ilal al-Hadīts karya Ibn Abīy Hātim, terdiri dari 2 Juz, mengenai penyakit-penyakit Hadis.[18]

Literatur-literatur biografi para periwayat Hadis tersebut masih tersimpan rapi di perpustakaan peninggalan A. Hassan di Bangil. Ini, menunjukkan bahwa A. Hassan cukup menguasai literatur rijāl al-hadīts.

Data informasi yang harus diperiksa dari perawi Hadis menurutnya, sebagai berikut; (1) nama lengkap perawi, termasuk laqab dan atau kunyah-nya, (2) kelahirnya, (3) tahun matinya, (4) negerinya, (5) guru-gurunya, (6) murid-muridnya, (7) dimana ia belajar yakni sejarah perlawatannya mencari Hadis, (8) siapa-siapa yang ia jumpai dari kalangan ahli Hadis, (9) penilaian ulama terhadapnya.

Salah satu contoh yang dapat penulis kemukakan dari hasil pemeriksaan A. Hassan terhadap biografi perawi Hadis, yaitu Hadis tentang keadaan jasad para Nabi di alam kubur riwayat Ahmad, Abū Dāwud, Al-Nasā’iy, Ibnu Mājah, Ibnu Hibbān, al-Hākim, al-Bayhaqiy, al-Dārimiy, Sa‘īd ibn Manshūr, al-Thabrāniy, dan Ibn Abī Syaybah. Menurut al-Hākim dan al-Nawāwiy, Hadis tersebut sahih. Al-Mundziriy juga menganggap Hadis tersebut baik. Namun A. Hassan melemahkan Hadis tersebut.

Ketida ksahihan Hadis tersebut menurut A. Hassan, disebabkan karena adanya seorang perawi dalam sanad Hadis tersebut yang bernama ‘Abdurrahmān ibn Yazīd ibn Jābir. Adapula sebagian ahli Hadis yang menyebutkan bahwa Hadis tersebut tidaklah melalui jalur ‘Abdurrahmān ibn Yazīd ibn Jābir, tetapi melalui ‘Abdurrahmān ibn Yazīd ibn Tamīm.

Pemeriksaan terhadap perawi Hadis memang sangat diperlukan, sebab dengan memeriksa keadaan mereka, orang yang mengadakan pemeriksaan akan lebih yakin akan kesahihan sebuah riwayat. Dalam memeriksa perawi Hadis, A. Hassan hanya memeriksa guru mukharrij hingga tabi’in, karena menurutnya, para sahabat itu sudah masyhur ke-ādil-an mereka, demikian pula para mukharrij. Ia mengemukakan:

“Sebenarnya, ulama-ulama Pendaftar Hadis, seperti Malik, Ahmad, Bukhāriy, Muslim, dan lain-lainnya, tidak perlu diperiksa lagi, karena mereka sudah diuji kealiman, kesalehan, dan keamanatannya dalam urusan agama, terutama dalam urusan Hadis oleh ulama-ulama yang sangat teliti di masing-masing masa dan terus menerus. Begitu juga, para sahabat Nabi yang jadi rawi yang masyhur-masyhur, sudah diselidiki dan diuji oleh ulama dan terdapat kebenaran, kesalehan, keikhlasan, dan keamanatan yang sempurna pada mereka. Jadi yang perlu diperiksa itu ialah lain dari dua golongan tersebut”.

Dari pernyataan ini, dapat penulis simpulkan bahwa kegiatan pemeriksaan terhadap pribadi periwayat yang dilakukan A. Hassan, lebih tertuju pada, selain “para sahabat Nabi yang jadi rawi yang masyhur-masyhur” dan “Pendaftar Hadis”. Alasannya, karena mereka telah lulus uji pemeriksaan yang diadakan oleh ulama terdahulu.

DAFTAR PUSTAKA

A. Hassan, et al., Soal Jawab, Jilid II, (Cet. XII; Bandung: Penerbit CV Diponegoro, 2000 M.), h. 696.

A. Hassan, “Muqaddimah Ilmu Hadis dan Ushūl Fiqh”, dalam Tarjamah Bulūg al-Marām, (Cet. XXV; Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2001 M.), h. 5-6.; Selanjutnya disebut “Muqaddimah Ilmu Hadis” saja.

A. Latief Muchtar, Gerakan Kembali ke Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1998 M.), h. 228.

Syafiq A. Mughni, Hassan Bandung: Pemikir Islam Radikal, (Cet. II; Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1994 M), h. 11

Lihat tulisan Tamar Jaya, “Riwayat Hidup A. Hassan”, dalam A. Hassan, Tarjamah Bulughul Maram, (Bandung: CV. Penerbit Diponegoro, 2001 M), h. 709; Howard M.



[1] A. Latief Muchtar, Gerakan Kembali ke Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1998 M.), h. 228.

[2] Syafiq A. Mughni, Hassan Bandung: Pemikir Islam Radikal, (Cet. II; Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1994 M), h. 11

[3] Lihat tulisan Tamar Jaya, “Riwayat Hidup A. Hassan”, dalam A. Hassan, Tarjamah Bulughul Maram, (Bandung: CV. Penerbit Diponegoro, 2001 M), h. 709; Howard M.

[4] Lebih lanjut lihat catatan Howard M. Federspiel, Syafiq A. Mughni, dan Dadan Wildan mengenai buku-buku karya A. Hassan.

1 komentar:

Toko Kaos Bukhari Muslim mengatakan...

A Hassan merupakan seorang ulama yang langka. Ketajaman tulisannya diakui bahkan oleh lawan debatnya. Beliau merupakan intelek islam tanpa gelar. Beliau juga merupakan orang pertama yang menulis tafsir al-quran dalam bahasa indonesia.
Tafsir Al-Furqan adalah karya paling monumental yang pernah ada dalam sejarah islam indonesia.
Mudah-mudahan lahir lagi ulama-ulama seperti beliau di negeri ini.

Poskan Komentar