SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM PERSIS (STAIPI)

MEDIA DAKWAH DAN ILMU PENGETAHUAN

Subscribe
Add to Technorati Favourites
Add to del.icio.us

1.30.2009

Allah Melindungi Rasul

Diposting oleh aLumNUs BalZ

Oleh : KHE Abdurrahman
"Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (QS Al-Maidah: 67)



Sehubungan dengan ayat ini, Al-Mawardi dalam kitabnya “A’lamun Nubuwwah” (tanda-tanda kenabian) mencatat beberapa peristiwa yang menjadi bukti akan kebenaran apa-apa yang dijanjikan Allah kepada Rasul-Nya. Ia selalu dijaga dan dilindungi dari segala kejahatan yang direncanakan pihak lawan. Sudah beberapa kali Rasulullah akan dibunuh orang di Mekah, tetapi semua rencana pembunuhan itu gagal.

Orang kafir Quraisy tidak mampu meniup cahaya Ilahi, tidak bisa meniup mata hati mereka akan kebenaran Al-Quran. Semua isi Al-Quran itu diakuinya benar, tidak dapat dibantah, tetapi kekufuran yang berdaulat di hati mereka telah menggelapkan mata mereka, sampai akhirnya mereka nekat akan membunuh Rasulullah Saw. Mereka menyangka bahwa dengan pembunuhan itu segala persoalan akan selesai dan akan hilang segala sesuatu yang tidak mereka inginkan.

An-Nadhr binil Haris, yang sering dipanggil dengan nama Abu Sahmin (juara panah), seorang tokoh dan pemimpin Quraisy yang besar pengaruhnya, mengadakan rapat di Darun Nadwah. Dengan dibantu oleh seorang pujangga terkemuka, Zibaro, dia memanaskan hati orang yang hadir, membakar nafsu, dan membangkitkan amarah serta kebencian kepada Rasulullah Saw.

Dengan bahasa dan cara yang menarik, ia mengatakan: “Mati lebih baik bagi kamu sekalian daripada hidup,” karena agama nenek moyang diganggu dan kepemimpinan berpindah tangan. Dalam rapat tersebut, Abu Jahal turut menyambut, menjelaskan kelemahan-kelemahan Rasulullah. Rasulullah hanya seorang diri, sedangkan kabilahnya, Banu Hasyim, orangnya tidak banyak. Kabilah ini hanyalah satu kabilah dari kabilah-kabilah Quraisy yang banyak jumlah.

Abu Jahal berkata: “Apakah tidak ada di antara kamu yang mau menyumbangkan hidupnya demi ketentraman bangsanya yang selalu dirongrong oleh Muhammad?” Lalu Abu Jahal menundukkan kepalanya.

Hadirin menyambut baik, dan mereka berkata: “Siapa yang berani, maka dialah yang akan diangkat menjadi sesepuh.”

Abu Jahal berkata: “Muhammad bukan orang terkuat di antara kita. Baiklah, akan saya hancurkan kepalanya dengan batu besar. Bila saya mati, maka saya telah berjasa menentramkan bangsa ini. Tetapi bila saya hidup, itulah yang saya harapkan.”

Pada waktu yang telah disekapati bersama, mereka berkumpul di Masjidil Haram, mereka mau menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh Abu Jahal terhadap Rasulullah. Seperti biasanya Rasulullah masuk ke Masjidil Haram mendekati Ka’bah, kemudian beliau salat. Abu Jahal siap mendekati Rasulullah, disaksikan oleh kawan-kawannya. Ia sudah siap membawa mihras, yaitu alat pemukul yang besar dan panjang yang terbuat dari batu.

Rasulullah shalat dengan khusu, ruku dan sujudnya agak lama. Para pemerhati terkejut melihat kehusyuan Rasulullah itu, karena ia seperti tidak tahu ada yang mengintipnya.sedangkan dia tau situasi dalam keadaan bahaya. Mereka juga terkejut, karena Abu Jahal tidak segera mengambil kesempatan yang baik itu untuk menghancurkan kepala Rasulullah dikakernakan masih dalam keadaan sujud.

Kawan-kawan Abu Jahal bertambah terkejut dan heran setelah melihat mihras yang besar itu terjatuh dari tangannya dan jarinya berlumuran darah, dia lari terbirit-birit. Dia meminta tolong kepada kawan-kawannya karena badannya tidak bertenaga lagi, kemudian dia jatuh pingsan.

Setelah Abu Jahal sadar, ia menerangkan bahwa Muhammad itu mahjub, tertutup dalam lindungan, mihras tidak dapat digunakan, dan pada saat itu ia melihat seekor unta yang sangat besar, seakan-akan mau menelannya. Kawan-kawannya menertawakannya, sebab mereka tidak melihat apa-apa, tidak ada unta dan tidak ada sesuatu yang menghalangi Rasulullah. Mereka heran mengapa Abu Jahal lari ketakutan, padahal tidak terlihat ada sesuatu yang menakutkan dia. Kemudian mereka berkata: “Yang jelas, kamu Abu Jahal masih hidup, lalu kamu lari.”

Abu Jalah menjawab: “Kamu tidak mungkin dapat menipu atau membujuk aku.” Mereka tidak percaya akan omongan Abu Jahal itu, dan menyangka Abu Jahal berdusta, alasannya dibuat-buat untuk menyembunyikan ketakutannya akan kematian. Sehubungan dengan itu, pemimpin mereka, An-Nadhr atau Abu Sahmin, berkata: “Besok kita ulangi!” Lalu dijawab oleh kawan-kawannya, “Siapa yang dapat melakukannya, pasti akan dinobatkan sebagai pemimpin kami.”

Pada keesokan harinya mereka berkumpul dekat tempat salat Rasulullah dengan tekad yang bulat dan dengan keyakinan pasti bahwa dia akan menang. Begitu Rasulullah datang, dengan cepat mereka menyerbu Rasulullah. Tetapi mereka tidak dapat mendekatinya, sebab dengan cepat Rasulullah mengambil segenggam pasir, lalu ditaburkan ke arah mereka, sambil membaca, “Haa miim, laa yunsharuun”, dan larilah mereka bertebaran.

Mereka menyaksikan mukjizat Al-Quran, tidak disangsikan lagi kebenarannya. Mereka tidak mampu menunjukkan kesalahannya. Sungguh terasa kenyataan dan terbukti kebenaran Al-Quran. Hati nurani mereka menerima, tetapi nafsu buruknya menolak. Karena takut ajaran Islam diterima oleh kaumnya, mereka berusaha sekuat tenaga untuk melumpuhkan ajaran Islam, dengan mengorbankan harta, tenaga, dan jiwa.

Ma’mar bin Yazir adalah orang yang termasyhur, dia orang yang paling berani di kalangan kaum Bani Khimamah, pengaruhnya besar, dan hartanya banyak. Sewaktu orang-orang meminta tolong kepadanya agar Muhammad dimusnahkan, dia segera menyanggupinya. Dia berbesar hati karena anak buahnya banyak, bila ia cedera tentu ditolong, bila mesti membayar denda pembunuhan, dapat segera dibayar karena dia seorang hartawan.

Dengan langkah yang ringan dan hati yang riang ia pergi membawa pedangnya yang panjangnya tujuh jengkal dan lebarnya satu jengkal. Ia pergi menuju tempat salat Rasulullah di Masjidil Haram. Dengan pedang terhunus ia menunggu Rasulullah sujud. Tetapi tatkala pedang diangkat, dengan sontak mendadak ia melemparkan pdangnya, kemudian ia lari. Di Shafa, dekat Masjidil Haram, dia jatuh, mukanya terluka. Dengan muka yang berlumuran darah dia lari pulang ke akmpungnya.

Kawan-kawannya berkumpul, mereka menyucikan mukanya, setelah ia sadar, ia menerangkan bahwa ia lari karena takut dikejar oleh dua ekor ular besar, dan dia berkata: “Mulai sekarang saya tidak akan mau lagi mengganggu Muhammad.”

Mukjizat yang mereka lihat dengan mata kepala sendiri itu bukan tidak diterima oleh hati nurani, tetapi keingingan untuk taat kepada Islam tidak ada di hati mereka. Laksana orang yang masuk ke sebuah toko tetapi tidak berbelanja, bukan karena barangnya yang jelek, atau kualitasnya yang rendah, atau harganya yang mahal, dan bukan pula karena tidak ada daya beli, melainkan karena keinginan untuk berbenaja itu sendiri tidak ada. Demikianlah bila hati mengandung penyakit, dan bila hati sudah tertutup. Wallahu’alam**

0 komentar:

Posting Komentar